Friday, 6 July 2018

Luis Milla Pun Akui Jika Pemain Timnas U-23 Layak Bermain Di La Liga. Kira-kira, Siapa Dia?

Setelah melatih Timnas U-23 selama kurang lebih satu setengah tahun, Pelatih timnas U-23 Indonesia berkebangsaan Spanyol, Luis Milla berani memberikan pernyataan mengenai kualitas yang dimiliki oleh para pemain asuhannya. Dalam lansiran dari goal.com (03/07/2018), sang pelatih memberikan pernyataan jika dalam tubuh timnya, terdapat nama-nama pemain yang secara kualitas dia nilai layak untuk bermain di kasta sepakbola Eropa, khususnya La Liga, kompetisi utama di negeri kelahirannya, Spanyol.

Gambar via bola.tempo.co
Akan tetapi, sayangnya sang pelatih tidak mau menyebutkan secara gamblang mengenai nama-nema pemain yang dia maksud, akan tetapi jika menilik performa pemain yang selama ini menjadi andalannya dalam skuat, akan sangat mungkin jika nama-nama tenar dalam tim yang menjadi pemain yang dia maksud. Contohnya saja adalah gelandang Persib Bandung, Febri Hariyadi yang semenjak ditangani oleh Milla, dinilai oleh sang pelatih mampu menunjukkan grafik permainan yang meningkat pesat. Ada juga nama besar lainnya semacam Hansamu Yama Pranata, yang semakin hari membuat Milla semakin tenang dalam menyerahkan pos pertahanan timnya kepada pemain Barito Putera tersebut.

Gambar via bola.com
Selain dua nama tersebut, dalam skuat yang dibesut oleh Milla juga masih ada nama pemain dengan skill mumpuni sekelas Evan Dimas Dharmono. Untuk nama ini, sejatinya pernah juga menjalani trial bersama klub divisi dua La Liga Spanyol, ll Lagostera pada tahun 2015 lalu. bahkan dalam sebuah laga melawan Palamos CF di sebuah uji coba, pemain jebolan Timnas U-19 angkatan 2013 ini dimainkan dalam laga. Namun sayangnya, skill yang dia miliki saat itu belum mampu membuat manajemen tim kepincut untuk mengontraknya (soccer.sindonews.com 10/08/2015)

Rezaldi Hehanussa dan Febri Hariyadi via football-tribe.com
Nama lain yang menyeruak kuat adalah bek kiri Macan Kemayoran, Persija Jakarta, Rezaldi Hehanussa. Pemain yang mencetak lengkungan indah dalam laga perebutan medali perunggu melawan Myanmar pada ajang Sea Games 2017 lalu ini memang digadang-gadang oleh Milla sebagai pemain yang mumpuni dan beberapa kali pula mendapatkan pujian dari sang Pelatih. Tak segan-segan pula Milla dalam beberapa kesempatan menyebutkan jika Indonesia beruntung memiliki full back modern dalam skuat yang dia asuh saat ini. Namun, jika ingin berkompetisi di level yang lebih tinggi, pemain ini harus mengurangi “keusilan” saat berada didalam lapangan, yang seringkali membuahkan kerugian bagi Timnas Indonesia.

Gambar via juara.bolasport.com
Mungkin teman-teman pembaca ada yang berpendapat lain, mengenai para pemain yang dimaksud oleh Luis Milla?

Sumber: armada11, UC WE Media (http://tz.ucweb.com/7_2t9jA)

Sepertinya, Tak Ada Pemain Inti Dan Pemain Cadangan Di Tubuh Timnas U-19 Tahun Ini.

Laga kedua timnas U-19 Indonesia di ajang AFF U-19 melawan Singapura berakhir dengan skor 4-0 untuk keunggulan skuat Garuda Nusantara. Dua gol dari Rafli Mursalim, dan sumbangan masing-masing satu gol dari Saddil Ramdani dan juga Todd Rivaldo Ferre, membuat Indonesia untuk sementara memuncaki klasemen grup A Piala AFF U-19 edisi tahun 2018. (bola.kompas.com 03/07/2018)
Gambar via bola.com
Dari laga malam hari ini, coach Indra Sjafri melakukan rotasi terhadap beberapa pemain dalam line up. Setidaknya, nama-nama seperti Rafli Mursalim, M. Firli, David Rumakiek, hinggas Raffi Syarahil malam hari ini mencicipi lapangan pertandingan dengan menit yang lumayan lama. Tak hanya mendapatkan kesempatan bermain di menit-menit utama, para pemain tersebut pun mampu menampilkan performa yang memukau. Rafli Mursalim mampu mencetak brace dalam kemenangan 4-0 tersebut, M. Firli mampu melakukan intersep dan menahan laju serangan para pemain Singapura ke gawang Indonesia, David Rumakiek mampu melakukan overlapping yang tak kalah agresifnya dengan Firza Andika, dan Rafi Syarahil, beberapa kali mampu menciptakan peluang untuk rekannya, atau bahkan dirinya sendiri melalui shooting jarak jauhnya.
GAmbar via kumparan.com
Kualitas yang ada dari para pemain yang baru mendapatkan menit bermain di laga kedua ini, setidaknya mampu mengindikasikan jika kedalaman skuat yang dimiliki oleh coach Indra saat ini relatif berimbang dan merata. Mungkin tak ada lagi istilah pemain cadangan dalam tim ini jika melihat permainan yang mereka tunjukkan, justru lebih bagus dari para pemain yang sering mendapatkan menit bermain reguler. Dengan meratanya skuat yang ada saat ini, boleh kita optimis untuk merengkuh gelar di edisi kali ini?

Sumber: armada11, UC WE Media (http://tz.ucweb.com/7_2t6Te)

Mungkin Benar Apa Yang Dikatakan. Dia Itu, Perpaduan Antara Feri Pahabol Dan Boaz Solossa!



Gambar via tribunnews.com
Dalam kemenangan besar Timnas Indonesia U-19 melawan Singapura U-19 malam hari ini, saya kembali tertarik untuk membahas mengenai satu pemain Timnas U-19 yang semakin menunjukkan kapasitasnya di lini tengah skuat Garuda Nusantara. Jika selama ini Egy Maulana menjadi pemain sentral yang mampu menjaga lini tengah timnas dengan akselerasi yang seringkali dia keluarkan untuk mengacak-acak pertahanan lawan, ketika dia absen, ternyata lini tengah Timnas Indonesia U-19 masih memiliki pemain yang mampu merepotkan lini pertahanan lawan. (bola.liputan6.com 03/07/2018)

Gambar via jawapos.com
Todd Rivaldo Ferre, pemain asal Persipura Jayapura tersebut setidaknya mampu menampilkan permainan impresif ketika bintang Timnas U-19, Egy Maulana Vikri tak bisa dimainkan. Permainan yang stabil dan juga mencerminkan pola yang diperagakan anak-anak Indonesia Timur, malam ini kembali keluar dalam dirinya. Setidaknya ada tiga hal utama yang menjadi kelebihan pemain ini saat laga melawan Singapura. Kecepatan, dribbling (gocekan) dan juga tendangan. Iya, tiga hal yang saling melengkapi permainan dirinya di Timnas malam hari ini. (indosiar.com 03/07/2018)

Todd Rivaldo Ferre via bola.com
Sebagai pemain dari Timur, dia tentu saja memiliki skill dalam kecepatan dan juga dribbling. Tapi tak hanya itu, ketika anak-anak dari Timur hanya mengandalkan dua hal tersebut sebagai senjata utama, Todd Rivaldo mampu melengkapinya dengan shooting yang mumpuni. Sepintas, saat menggiring dan mengolah bola, dia bermain layaknya Feri Pahadol yang liat dan mencari sisi kosong untuk beraksi, sedangkan saat melakukan tembakan, teknik dan tendangan milik Boaz Solossa, legenda Timnas Indonesia lah yang muncul dalam aksinya. Maka, bukan suatu hal yang salah, ketika komentator pertandingan pun melihat pemain ini adalah perpaduan antara dua bintang sepakbola kelas wahid asal Papua tersebut. iya, kiranya tak salah jika Todd Rivaldo Ferre adalah perpaduan antara Ferinando Pahabol dan Boaz Solossa saat memainkan si kulit bundar.

Sumber: armada11, UC WE Media (http://tz.ucweb.com/7_2sd3C)

Jika Bukan Karena Bantuan Penalti, Bukan Kane Yang Jadi Top Skorer Saat Ini. Tapi Dia!

Babak 16 besar dalam gelaran Piala Dunia 2018 Russia telah usai. 8 tim pun telah memastikan diri untuk lolos ke babak selanjutnya, alias babak 8 besar. Dan tentu saja para pecinta sepakbola mengetahui, Inggris menjadi satu diantara 8 tim yang berhak untuk kembali bertarung di babak perempat final nanti (fifa.com 04/07/2018). Kesuksesan Inggris melaju ke babak selanjutnya, tak hanya merupakan kesuksesan secara tim saja. namun, secara individu, torehan positif The Three Lions juga diikuti oleh salah satu pemain mereka, Harry Kane. Torehan satu gol yang dia lesakkan ke gawang Kolombia pada babak 16 besar kemarin, menjadi gol ke 6 pemain ini di ajang Piala Dunia, dan menahbiskan dirinya menjadi top skorer sementara gelaran ini. Namun, dari analisa yang saya dapatkan melalui fifa.com (diakses pada 04/07/2018), sejatinya 6 gol yang dia lesakkan, separuhnya merupakan “hadiah”, alias dia lesakkan dari titik penalti.

Gambar via independent.co.uk
Iya, sejauh ini Kane telah mencetak enam gol. masing-masing ke gawang Tunisia (mencetak brace pada laga perdana 18 Juni 2018), Panama (mencetak hattrick pada laga kedua tanggal 24 Juni 2018), dan terakhir, ke gawang Kolombia pada laga 16 besar kemarin (3 Juli 2018). Total, enam gol telah dia cetak, namun, seperti yang telah saya tuliskan, separuh dari gol itu, dia lesakkan dari titik penalti (3 gol, atau 50% jika dipersentasekan). Masing-masing saat melawan Panama ( 2 gol pada laga ini dia cetak lewat titik penalti), dan satu gol lagi saat laga melawan Kolombia kemarin.

Gambar via indianexpress.com
Jika kita hitung gol melalui open play, sejatinya penyerang Belgia, Romelu Lukaku menjadi pencetak gol terbanyak, yakni empat gol. saat ini, Lukaku berada di posisi dua pencetak gol terbanyak bersama Cristiano Ronaldo, namun masih memiliki kesempatan untuk menambahnya karena Belgia lolos ke babak 8 besar, sedangkan Protugal sudah harus mengakhiri kiprah mereka di ajang ini. Gol Lukaku ini semuanya dia cetak pada babak grup, dimana dia mampu mencetak brace dua kali pada laga melawan Panama (berkesudahan 3-0 untuk kemenangan Belgia), dan juga Tunisia (skor akhir 5-2). Uniknya, baik Lukaku maupun Kane tidak mampu mencetak gol ketika kedua tim yang mereka bela, bertemu di laga ketiga fase grup. justru saat itu, Adnan Januzaj yang menjadi aktor kemenangan Belgia atas kemenangan tipis 1-0 mereka terhadap Inggris.

Gambar via fifa.com
Lalu, apakah Kane bisa membuktikan jika dia memang layak untuk menjadi topskorer sejati, tanpa bantuan dari penalti yang diberikan? Karena jika dihitung secara open play, Lukaku kini mengoleksi 4 gol, dibandingkan dengan Kane yang baru mengemas 3 gol. sepertinya akan semakin seru persaingan kedua pemain ini.

Sumber: armada11, UC WE Media (http://tz.ucweb.com/7_2uXP7)

Maaf Pendukung Inggris, Tahun Ini Bukan The Three Lions Juaranya!

Inggris akhirnya memastikan diri merebut satu tiket ke babak 8 besar Piala Dunia 2018 Russia selepas pada pertandingan 16 besar kemarin mampu menghempaskan kekuatan Amerika Latin, Kolombia. Perlawanan alot kedua tim, membuahkan hasil yang sama kua 1-1 hingga akhir masa perpanjangan waktu. Dan, kunci kelolosan Inggris pun akhirnya harus ditentukan melalui adu tendangan penalti yang berkesudahan 4-3 untuk kemenangan The Three Lions (fifa.com 04/07/2018)

Gambar via fifatv
Meski mampu melaju ke babak 8 besar, namun untuk menjadi jawara, Inggris sepertinya masih memerlukan perjuangan yang berat. Meski selama ini berhasil menjadi superior atas lawan-lawannya (kecuali saat menghadapi Belgia), kekuatan lini per lini yang dimiliki oleh skuat Gareth Southgate ini tidaklah merata. Bisa dikatakan, dengan pola 3-5-2 yang dia usung, menitikberatkan pada kekuatan lini tengah dan lini serang timnya untuk membuat “fatamorgana” kekuatan lini belakang timnya. Dengan konsep pertahanan terbaik adalah menyerang yang dianut sang pelatih, Timnas Inggris pada gelaran Piala Dunia kali ini memang mengedepankan pola penyerangan menyeluruh untuk mengintimidasi lawan, sehingga tim-tim yang dihadapi, sebisa mungkin tidak melakukan ancaman kepada 3 pemain belakang yang ada.

Gambar via fifatv
Hal ini terbukti efektif untuk menciptakan peluang dan juga gol saat menghadapi tim-tim yang memiliki konsep penyerangan tak sekuat Inggris. Di fase grup contohnya, pada laga perdana, mereka mampu mengurung pertahanan Tunisia dan mengakhiri laga dengan skor 2-1, kemudian melawan Panama, mereka bahkan bisa menyerang sepanjang pertandingan, dan menghabisi lawannya dengan skor mencolok 6-1. Namun, ketika menghadapi Belgia yang juga memiliki konsep penyerangan stabil dengan pola dan pakem permainan 4-3-3 serta turunannya, Inggris harus bertekuk lutut dengan skor 1-0 (mirror.co.uk 28/06/2018). Dalam pertandingan tersebut, Belgia sejatinya memainkan sepakbola sederhana. Pertama, mereka hanya perlu untuk mematahkan penyerangan Inggris yang begitu bergelombang, kemudian, yang kedua, sebisa mungkin melewati hadangan lini tengah Inggris, untuk kemudian memberikan ancaman kepada para pemain belakang yang “dilindungi” lini tengah dan juga depannya.

Gambar via fifatv
Dalam laga melawan Kolombia pun Inggris memainkan pola yang sama. Mereka konstan menyerang sepanjang laga, untuk meminimalisir ancaman yang dibuat oleh para pemain Kolombia, dan hasilnya memang positif. Mereka mampu memaksa lawannya untuk berfokus pada pertahanannya sendiri, dan hanya sesekali melakukan serangan. Namun, jika Inggris tetap memainkan pola yang sama di babak-babak selanjutnya, tentu akan sangat riskan. Berkaca dari pengalaman kekalahan mereka atas Belgia yang memiliki konsep penyerangan yang kuat, tentu mereka patut was-was. Bagaimana tidak, 7 tim lainnya yang lolos ke babak 8 besar memiliki konsep penyerangan yang kuat, seperti Uruguay, Perancis, Belgia, hingga Brazil yang berpotensi menjadi lawannya di babak final nanti. Untuk 8 besar hingga semifinal, mungkin hanya Kroasia yang memiliki konsep penyerangan kuat. Sedangkan Swedia (lawan selanjutnya), dan Russia, bisa jadi bukan suatu ancaman yang berat bagi mereka. Jika mengandalkan skema yang ada saat ini, maka akan sangat mungkin, Inggris maksimal hanya akan mampu mencapai babak final (saya berharap mereka akan bertemu dengan Kroasia di babak semifinal, agar pola 3 bek mereka teruji kembali). Tapi, bola itu, bundar, who knows the future?

Sumber: armada11, UC WE Media (http://tz.ucweb.com/7_2uSrK)

Nasionalisme Ala Anak Muda Indonesia Di Timnas U-19, Dapat Kita Pelajari Dari Putera Papua Ini

Todd Rivaldo Ferre, kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai pemain muda potensial yang dimiliki oleh Indonesia pada malam hari ini. Bermain penuh pada babak kedua, pemain asal Persipura Jayapura ini menjadi salah satu aktor penentu kemenangan Timnas Indoensia U-19 atas lawan yang mereka hadapi, Timnas Filipina U-19. Terus berlari sepanjang babak dia dimainkan, akhirnya dirinya menuai hasil positif, selepas mampu mencetak gol keempat sekaligus gol penutup yang menyudahi perlawanan The Young Azkals dengan skor 4-1. (bola.liputan6.com 05/07/2018)

Gambar via sport.detik.com
Malam ini, saya tak hanya mendapati seorang Todd Rivaldo menyajikan permainan yang menarik, namun saya juga mendapati sisi lain yang ditunjukkan oleh pemain asal Indonesia Timur ini, yakni nasionalisme. Iya, malam ini, Todd menunjukkan jika pemain asal Indonesia Timur, yang banyak kalangan meragukan kesetiaan mereka kepada negara ini (tentunya hal ini buntut dari dunia politik dan pertahanan keamanan yang seringkali diterima masyarakat, sehingga ada juga kalangan yang menjudge saudara-saudara kita di timur, “tak senasionalis” dari daerah lain. Namun, disini saya tidak ingin membahas politik atau apapun itu), ternyata menunjukkan satu hal berharga kepada kita semua, dia sepenuh hati, dan juga raga dalam membela kehormatan negeri ini.

GAmbar via jawapos.com
Iya, Todd Rivaldo sejatinya bisa saja tidak melanjutkan pertandingan selepas mendapatkan cedera pada tangannya selepas terjatuh saat melakukan akselerasi pada pertengahan babak kedua. sempat beberapa lama tergeletak dilapangan, mengerang kesakitan sembari menunggu bantuan dari tim medis, ternyata Todd masih ingin melanjutkan permainan hingga menit terakhir. Terlebih, pada saat itu, Timnas U-19 telah melakukan pergantian pemain dengan memasukkan Saddil Ramdani, Syahrian Abimanyu, dan juga dirinya. Jadi, sebisa mungkin, dia tak ingin berhenti bermain karena nantinya timnas hanya akan bermain dengan 10 perseonel saja. apalagi dalam situasi tertinggal 0-1 atas lawan yang menerapkan pertahanan grendel dan mengedepankan serangan balik.

Gambar via bolatimes.com
Dia pun menuai kerja kerasnya selama bertanding. Pada akhirnya, dia mampu mencetak gol keempat timnas dan menutup laga dengan kemenangan telah 4-1 bagi Timnas Indonesia. dan bagi saya, malam ini Todd bukan hanya menunjukkan skillnya saja saat bermain, namun dia juga menunjukkan, betapa anak Timur juga tak bisa diragukan nasionalisme mereka dalam membela panji-panji kebesaran negeri ini. selamat Todd Rivaldo Ferre, selamat untuk Timnas U-19! Jangan terlena, masih ada laga-laga berat yang menanti!

Sumber: armada11, UC WE MEdia (http://tz.ucweb.com/7_2xZzK)


Biarkan Filipina Bermain-main 80 Menit, 10 Menit Terakhir, Kita Buat Mereka Menangis.

Timnas Indonesia U-19 berhasil kembali meraup hasil maksimal dalam laga ketiga Piala AFF U-19 kala bersua Filipina. 3 poin kembali mereka koleksi selepas mampu membungkam The Young Azkals dengan skor telak 4-1. Sebuah kemenangan dramatis yang diraih dengan susah payah dan juga penuh perjuangan karena Filipina bermain diluar dugaan semua kalangan, yang diprediksi akan menjadi tim yang mudah untuk ditaklukkan. (tribunnews.com 05/07/2018)

Gambar via bolasport.com
Dalam pertandingan ini, para pendukung Timnas Indonesia harus menahan nafas berkali-kali karena bermacam peluang yang dihasilkan, baik itu melalui serangan sayap, serangan tengah, terobosan ataupun tendangan jarak jauh, tak ada satupun yang mampu menjebol gawang lawan hingga menit ke 80. Tentu saja detak jantung para pendukung menjadi tak menentu sepanjang 80 menit laga berjalan. Bagaimana tidak, hingga 10 menit menjelang berakhirnya pertandingan, Timnas Indonesia U-19 masih dalam posisi tertinggal 0-1 selepas tendangan bebas Filipina, mampu menjebol jala gawang Riyandi.

Gambar via goal.com
Namun, semua berubah dalam 10 menit terakhir pertandingan. Gol pertama Saddil Ramdani yang dicetak pada menit ke 81 dengan lesakan jarak jauh membelakangi gawang, menjadi pengubah jalannya laga. Berturut-turut, dalam tempo kurang dari 10 menit, para pemain Indonesia mampu menggelontorkan tiga gol tambahan melalui Firza Andika, Saddil Ramdani (iya, pemain Persela Lamongan ini menjadi pemain yang mencetak brace pada laga kali ini), dan ditutup oleh pemain bintang Persipura Jayapura, Todd Rivaldo Ferre, hingga mengubah hasil akhir menjadi 4-1. (indosiar.com 05/07/2018)

GAmbar via bola.com
80 menit, biarkan Filipina berkreasi dan berharap hasil akhir menjadi milik mereka, namun 10 menit terakhir, kita rebut kemenangan yang telah ada didepan mereka, dan berikan hasil akhir yang tak memihak bagi mereka. Selamat Garuda Nusantara! Jangan terlena dengan kemenangan ini. dua laga berat masih tersisa untuk dijalani!

Sumber: armada11, UC WE Media (http://tz.ucweb.com/7_2xRXF)

Yes! Timnas Indonesia U-23 Tergabung Di Grup Mudah Asian Games 2018 Mendatang!

Bersyukur, itulah yang saya rasakan ketika mengetahui hasil pembagian grup ajang Asian Games 2018 cabang sepakbola. Bagaimana tidak, Timnas U-23 asuhan Luis Milla, bisa dikatakan tergabung dalam grup yang relatif mudah dalam gelaran kali ini. bertindak sebagai tuan rumah, Timnas Indonesia U-23 otomatis masuk ke dalam unggulan pertama, dan otomatis pula menjadi penghuni grup A.

Gambar via pssi.org
Dalam lansiran dari laman resmi federasi, pssi.org (05/07/2018), Indonesia U-23 tergabung dengan tim-tim sekelas Hong Kong, Laos dan juga China Taipei. Ketiga tim tersebut diatas kertas masih berada dibawah permainan Hansamu Yama Pranata dan kawan-kawan, dan dalam sejarah pertemuan dengan mereka, Indonesia masih lebih superior dibandingkan dengan 3 calon lawannya tersebut. namun, tentu saja hal itu tidak bisa dijadikan tolok ukur, apalagi sampai meremehkan lawan yang bakal mereka hadapi.

Lalu, akan sejauh mana perjalanan Indonesia di ajang Asian Games 2018 yang dihelat dirumah sendiri tahun ini? apakah mampu memenuhi target masuk babak semifinal, atau kurang bahkan lebih? Semoga saja bisa lebih, karena dalam gelaran terakhir lalu di Asian games 2014 Incheon Korea Selatan, mereka mampu bermain hingga babak kedua alias 16 besar. Bermain dirumah sendiri, tentu prestasinya harus lebih baik lagi dong!
Pemilik hak cipta: armada11

Gambar via sport.detik.com
Sumber : armada11, UC WE Media (http://tz.ucweb.com/7_2xeNF)

Kekuatan Warganet Indonesia, Mampu Paksa Indosiar Buka Acakan Siaran Langsung Timnas U-19

Sepertinya hal itulah yang terjadi saat ini. para pendukung timnas Indonesia dan pecinta sepakbola nasional akhirnya bisa merasakan kegembiraan selepas laga Indonesia U-19 melawan Filipina U-19 akhirnya bisa tayang secara free to air di Indosiar. Hal ini tak lepas dari sikap indosiar, yang pada akhirnya mampu “luluh” selepas mendapatkan protes bertubi-tubi dari para pendukung Timnas karena mengacak laga yang dijalani oleh Timnas U-19 di ajang AFF U-19 tahun ini.

Gambar via vidio.com
Iya, dalam dua laga pertama yang dijalani oleh Timnas U-19, yakni pada laga pembuka melawan Laos U-19 dan juga melawan Singapura U-19, kekecewaan mendalam harus dialami oleh para pendukung timnas yang mengandalkan antena parabola sebagai penerima sinyal siaran langsung mereka. Indosiar yang menjadi pemegang hak siar dalam turnamen ini, melakukan pengacakan pada dua laga tersebut, sehingga layar televisi yang memakai parabola, menjadi gelap selama jalannya pertandingan. (isatelit.com 03/07/2018)

Gambar via sport.detik.com
Hal tersebut memantik reaksi para warganet Indonesia untuk melakukan protes di akun-akun resmi Indosiar. Instagram indosiar (@indosiar), twitter indosiar (@indosiarID) hingga facebook dan juga akun remsi mereka lainnya, menjadi sasaran “serangan” dan protes para warganet yang kecewa dengan pengacakan itu. Hingga pada akhirnya, pihak indosiar pun luluh juga dengan apa yang diungkapkan oleh para warganet tersebut. dan dengan kebesaran hati mereka, akhirnya pada laga ketiga timnas Indonesia U-19 ini (melawan Filipina U-19), akhirnya siaran langsungnya dapat dinikmati oleh mereka yang pada dua laga awal mengalami pengacakan pada siaran yang diterima. Ah, untungnya saja indosiar mau berbesar hati dalam mendengarkan aspirasi masyarakat luas yang ingin mendukung timnas beraksi. Dan, hal ini semakin membuktikan, jika warganet Indonesia, memiliki kekuatan yang potensial untuk melawan siapapun!
Gambar via bolasport.com


Sumber : armada11 UC WE Media (http://tz.ucweb.com/7_2xMjh)

Tuesday, 25 July 2017

Akhirnya... GTT dan PTT Rembang Mendapatkan Bankesra dari Pemerintah Daerah

Me, Right Now... xixixixi
Bulan juli ini sepertinya angin perubahan sedang berhembus di Kabupaten Rembang. Bukan perubahan yang negatif, akan tetapi perubahan yang positif. Angin perubahan itu berhembus di Dunia Pendidikan Kabupaten Rembang dengan nama Bankesra Kabupaten Rembang bagi GTT / PTT yang mengabdi di wilayah ini. Tentu saja ini disambut dengan gembira oleh segenap GTT/PTT yang selama ini sudah melewatkan waktunya bertahun-tahun dengan menjadi tenaga pengajar atau tenaga kependidikan di berbagai sekolah yang ada di penjuru kabupaten. Mereka seolah mendapatkan harapan baru, semacam penyemangat dalam bentuk kepedulian pemerintah terhadap kinerja mereka selama ini. Bisa dikatakan, ini adalah sebuah bentuk perhatian yang massif dari pemangku kebijakan terhadap mereka yang melewatkan waktunya untuk menjadi tenaga pendukung pendidikan di tingkatan akar rumput. Bisa dikatakan pula, ini adalah kebijakan Kepala Daerah (dalam hal ini Bupati Rembang) yang langsung bisa dirasakan dikalangan bawah secara merata.
Artikel ini sengaja aku buat untuk sekedar ungkapan rasa terima kasih mewakili teman-teman GTT/PTT yang nasibnya kini lebih diperhatikan dan kesejahteraannya lebih ditingkatkan oleh Bupati Rembang. Bukan bermaksud apapun. Apalagi bertendensi tertentu terhadap kebijakan ini. Toh aku, berusaha menempatkan diri dalam situasi yang netral. Bukan sebagai pendukung dengan taklid buta, bukan juga sebagai oposan terhadap pemerintahan. Sekali lagi, aku berusaha menempatkan diri dalam kungkungan netralitas ketika membuat tulisan ini. Bukankah kita harus berlaku adil dalam berbagai aspek kehidupan? Kita berhak untuk mengkritisi pemerintah terhadap kebijakan-kebijakan yang sekiranya tidak mendukung kehidupan rakyat banyak, namun kita juga harusnya memberikan apresiasi terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai mampu untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat. Bukan hanya selalu mencari kesalahan dari penguasa dan memberikan pandangan yang menggiring opini negatif masyarakat terhadap pemerintahan. Setidaknya, kita bisa memberikan sumbangsih dengan menjadi masyarakat yang cerdas dan tidak mudah untuk terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu. Akan sangat penting jika kita mencari berita yang berimbang, untuk kemudian menentukan kesimpulan suatu kebijakan dari sudut pandang yang paling subjektif, tidak berdasar pada egoisme otak rendah semata. Apalagi di era saat ini banyak sekali artikel yang hanya mencari keburukan pemerintah, sedangkan sisi baiknya sama sekali tak tersentuh sedikitpun. Nah, dikarenakan aku berkecimpung di bidang pendidikan, maka kebijakan yang berhubungan dengan dunia inilah yang aku angkat.
Kebijakan Bupati Rembang (yang saat ini dijabat oleh H. Abdul Hafidz) untuk memberikan bankesra kepada GTT dan PTT dinilai akan memberikan banyak sekali dampak positif di kalangan pendidik. Selain pamor akan kebijakan yang dinilai pro rakyat meningkat pemberian bankesra ini juga disinyalir akan membuat riak-riak kecil di kalangan akar rumput yang selama ini merasa terabaikan jerih payah dan pengorbanannya, akan semakin mengecil atau bahkan menghilang. Memang selama ini pemerintah daerah pun tak menutup mata dengan kinerja guru non PNS. Hanya saja, alokasi bankesra yang selama ini didapatkan, tidak mencakup GTT ataupun PTT secara masif. Sehingga seringkali terjadi kecemburuan diantara sesama guru non PNS dan pegawai non PNS. Imbasnya adalah, banyak kekecewaan yang timbul dikarenakan tingginya rasa ke-aku-an dikalangan pendidik yang merasa lebih layak untuk mendapatkan tunjangan, tapi nyatanya harus terlempar dan tidak mendapatkan apa yang dirasanya menjadi miliknya (meski hanya sebatas klaim tak berdasar oleh mereka). Imbasnya lagi, istilah-istilah yang didasari rasa suudzon pun tumbuh dan berkembang dengan maraknya semisal “kedekatan membuat dia dapat tunjangan” atau “pantes saja... dia dapat... ternyata... “ dan lain sebagainya.
Kebijakan ini tentunya tak muncul begitu saja tanpa pengawalan atau pengusulan yang kontinue dari berbagai pihak. Salah satu pihak yang berjasa besar menurutku adalah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) kabupaten rembang baik tingkat PD II, cabang, hingga ranting yang selalu memperjuangkan hak dan peningkatan nasib serta kesejahteraan guru di wilayah ini, baik itu guru yang sudah berstatus sebagai PNS ataupun non PNS. Pengusulan dan pengawalan yang mereka lakukan tanpa mengenal lelah kini berbuah manis dan dapat dirasakan oleh hampir seluruh guru di kabupaten penghasil garam ini dengan keluarnya kebijakan pemberian insentif bagi guru non PNS secara menyeluruh (tentunya dengan syarat TMT -terhitung mulai tanggal- tertentu yang diberlakukan).
Logo PGRI
Tak hanya perhatian, pemberian bankesra bagi GTT dan PTT ini tentunya akan dianggap sebagai sebuah kepedulian pemerintah bagi para guru non PNS ini. Setidaknya, hal ini akan sedikit meringankan beban mereka dalam mencukupi kehidupan sehari-harinya, terlebih, banyak diantara mereka yang beban kerjanya setara atau bahkan lebih berat daripada guru yang sudah PNS dan bersertifikasi. Bentuk kepedulian pemerintah ini ibarat harapan yang tak lagi kosong dan merupakan langkah nyata sebagai sebuah penghargaan atas kinerja telah yang mereka lakukan.
Segala hal pasti memiliki sisi positif dan sisi negatif yang menyertainya. Begitu juga dengan kebijakan pemerintah daerah yang memberikan insentif Bankesra secara masif kali ini. Apa itu sisi negatifnya? Tentu saja masalah kecemburuan akan perhatian. Gelontoran dana yang nominalnya tidak sedikit ini tentu saja membuat beberapa pihak merasa cemburu. Maksud cemburu disini adalah cemburu dalam hal perhatian dan kepedulian pemerintah. Bisa saja pekerja-pekerja lain nantinya akan mencemburui profesi guru yang “seolah-olah” (ini seolah-olah dengan tanda kutip) selalu diprioritaskan dalam hal apapun terutama pendanaan. Mulai dari tingkat pusat yang mengharuskan APBN 20%, hingga tingkat daerah. Bukankah selama ini guru sudah menjadi profesi yang di “iri” kan oleh pekerja lain karena menjadi satu-satunya profesi yang mendapatkan sertifikasi dengan nominal utuh satu kali gaji? Apalagi ditambah dengan suntikan dana bagi GTT/PTT yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Bisa jadi nanti akan ada semacam rasa “ingin disamakan” dengan guru. Namun, semoga saja ketakutan akan hal ini tidak berlanjut sehingga semua aspek dapat berjalan sesuai dengan standar dan tugasnya masing-masing.
Mungkin sebagai konklusi tulisan ini, diharapkan, dengan kebijakan daerah yang menyentuh kalangan akar rumput dunia pendidikan di kabupaten Rembang ini akan semakin meningkatkan kinerja para guru dan tenaga kependidikan, sehingga kedepannya akan tercipta peningkatan kualitas dan mutu pendidikan di sekolah dengan tujuan akhir adalah terciptanya output peserta didik yang mampu untuk bersaing dalam ketatnya globalisasi dengan berlandaskan etika dan nilai-nilai luhur kebangsaan seperti yang dicita-citakan oleh Negara yang bernama Indonesia Raya ini.
Minggu ini, minggu terakhir di bulan juli 2017, GTT/PTT di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang telah melakukan proses penandatanganan berkas pencairan Bankesra. Itu berarti, wujud nyata kepedulian pemerintah terhadap kerja keras mereka yang selama ini telah mendedikasikan hidupnya dalam membangun pengetahuan dan sikap para peserta didik. Dan semoga saja, sebentar lagi, Bankesra yang dijanjikan oleh Bapak Bupati dalam setiap acara yang beliau hadiri akan segera terrealisasikan, sehingga GTT/PTT di Kabupaten Rembang, dapat menikmati “Sertifikasi ala GTT” seperti yang selama ini dinikmati oleh para PNS... sertifikasi GTT? Ah, anggap sajalah seperti itu.

Terima Kasih Guru, Terima Kasih PGRI, Terima Kasih Bapak Bupati, Terima Kasih Para Pemangku Kebijakan...

Monday, 24 July 2017

Eksistensi Diri... Mereka Memang Ada...


Sudah sedari kecil sepertinya aku mempunyai penyakit susah tidur karena ketakutan akan sesuatu secara berlebihan. Jadi bagiku, suatu hal yang sangat menyenangkan atau bahkan cenderung suatu kemewahan jika aku bisa mendapati diriku bisa tidur dengan nyenyak. Karena selain susah tidur, saat tertidur pun seringkali aku terbangun dengan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Beberapa tahun ini juga sepertinya begitu. Aku sering merasakan ngantuk, tapi ketika dipakai untuk rebahan, sangat sulit untuk memejamkan mata dan tertidur pulas. Apalagi saat awal-awal hendak tidur. Sangat sulit untuk bisa terlelap, malah bahkan saat mencoba tertidur aku terhentak dengan tiba-tiba dan terjaga kembali tanpa tahu apa penyebabnya. Aku masih ingat ketika kecil, semalaman aku gak bisa tidur gara-gara nonton acara tipi dan disana ada adegan seekor hantu yang muncul dari balik jendela. (aslinya hantu itu didefinisikan sebagai seekor, sebuah sebutir, sebiji atau sebatang ya). Alhasil, malam itu, aku kepikiran terus dan gak bisa tidur gara-gara mantengin jendela yang ada didinding utara kamarku. Takut jika embak-embak yang aku lihat di tipi tadi tiba-tiba muncul dan nyengir dijendela kamarku sembari melambai-lambaikan tangan layaknya seorang penumpang yang sedang mencoba memberhentikan sebuah bus. Mataku melotot semalaman dan Ketakutan tingkat tinggi malam itu tak terbendung sampai akhirnya aku baru bisa tertidur menjelang pagi. Alhasil, sulit mataku untuk terbangun di pagi harinya, dan bisa ditebak, berangkat sekolah pun menjadi terlambat.
Yang aku tahu, sedari kecil aku sudah mengalami ketakutan yang sangat berlebihan terhadap sesuatu. Iya, ketakutan kepada hantu seperti yang sudah aku ceritakan diatas! Paling tidak sudah 4 atau 5 kali aku harus berurusan dengan yang namanya hantu. Belum lagi yang gangguan-gangguan kecil ketika sedang melakukan kegiatan perkemahan. Mulai dari jubah-jubah yang berseliweran sekilas-sekilas, sampe fenomena eksisnya penghuni-penghuni lokasi perkemahan yang kami tempati. Dan tahu gak, yang menjadi fans beratku adalah Abang genderuwo (biasa aku panggil dengan nama bang wowo) yang seringkali dengan teganya dia gangguin anak kecil yang imut, manis, ganteng dan juga keren seperti aku. Setiap kali aku menceritakan pengalaman-pengalamanku tentang si Abang ini, seringkali istriku merasa ketakutan. Tapi, bukan aku namanya kalo lihat istriku ketakutan tentang cerita hantu, terus aku berhenti cerita. Kadang malah aku godain dek bojo dengan cerita-ceritaku ini. Hihihihihi... *pernah suatu kali, sebelum tidur, aku cerita tentang salah satu pengalamanku. Hasilnya, malah aku sendiri yang gak bisa tidur nyenyak. Tiap kali mau ke kamar mandi, dek Bojo bangunin aku dan suruh nganterin ke kamar mandi. Ibarat senjata makan tuan buatku ya... haha..

Aku bukanlah seorang yang dikaruniai indera ke enam oleh Sang Maha Kuasa, tapi, gak tau kenapa aku bisa begitu paranoid dan ketakutan ketika merasakan sesuatu yang aku sendiri gak tau wujudnya. Tiba-tiba saja jika ke suatu tempat aku merasakan hal-hal aneh dan membuat bulu kuduk merinding... (ini bulu kuduk, bukan bulu ketek lho ya...). gak peduli tempat itu rame, ato sepi, terkadang tiba-tiba saja suasana menjadi aneh dan perasaan menjadi gak enak. Mungkin saja disekitar sana ada petugas penagih hutang ya? Sampe perasaan gak enak gitu. Bukannn, bukannn... ini tentang perasaan yang gak tenang karena sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
Mungkin pengalaman yang paling menyebalkan buatku (dan mungkin juga paling menyeramkan) adalah ketika aku dan sahabatku yang bernama Ris pindah dari kos yang lama buat ngontrak rumah bareng teman-teman yang lain. Seingatku kami saat itu ber 7. ada Erix, Slamet, Aryo, Imam, Amin, Ris dan aku. Dan masih aku ingat juga ketika itu adalah malam jumat dan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Setelah dirasa selesai dalam membereskan kosan lama, aku, Ris dan Aryo bergegas untuk boyongan ke kontrakan yang baru. Disana teman-teman yang lain juga baru saja tiba dan segera beberes karena hari yang mulai beranjak senja agar tidak telat dalam berbuka puasa.
Kontrakan yang kami tempati tidaklah terlalu besar. Hanya ada 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur (tepatnya ruang kosong yang kami fungsikan untuk dapur) dan juga ruang depan yang seringkali kami gunakan untuk tidur secara berjamaah. Mebelair? Jelas saja kosong. Tipi? Kosong juga. Pertama kali tiba disana, keadaan kontrakan kami sangat kotor. Karena menurut yang empunya, sudah lebih dari 5 tahun bangunan yang kami kontrak itu hanya digunakan sebagai gudang. Jadi sangat wajar jika keadaan tidak terurus dan sangat berdebu. Meski begitu, kami (tentunya gak termasuk aku) berusaha keras untuk “melayakkan” bangunan tersebut agar bisa ditempati oleh makhluk yang bernama manusia.
Benar saja, kami belum selesai membersihkan seluruh ruangan ketika adzan maghrib berkumandang. Dengan hidangan seadanya, kami melakukan buka puasa pertama di kontrakan itu. Skip, selesai berbuka, kami sholat maghrib dan dilanjutkan kembali dengan acara bersih-bersih yang belum selesai itu. Kegiatan itu kami lakukan hingga kurang lebih pukul sembilan malam. Jangan tanya kami sholat tarawih atau gak pada malam itu. Ya jelas saja gak tarawih laaahhh... (*jangan ditiru)
Selepas bersih-bersih diri, kami bercengkerama di ruang depan. Tanpa tipi, tanpa hiburan dan tanpa apapun selain kami. Satu jam, dua jam, satu persatu dari kami terlelap mengarungi mimpi yang semoga saja gak ada yang indah. Sedangkan aku, sama seperti kebiasaan yang sudah-sudah, aku gak bisa tidur jika berada di suasana baru atau merasakan perasaan yang aneh. Aku terus terjaga hingga beberapa lama sembari berharap semoga saja semuanya baik-baik saja dan gak ada abang wowo yang tiba-tiba nongol. Jika saja bang wowo sampe nongol saat itu, mungkin bakalan kami gebukin rame-rame. Itung-itung sebagai balas dendam karena selama ini sudah sering ngagetin aku dalam beberapa kesempatan.
Abang Wowo
Aku lihat jam di layar HP bututku sudah menunjukkan jam sebelas lebih sekian menit. Tapi mataku seolah ada yang mengganjal untuk tak terpejam. Sementara teman-temanku sudah saling berpacu dalam tidurnya meninggalkan suara dengkur yang salaing bersahutan seperti orkestra kurang modal. Aku pandangi wajah temanku satu persatu, lalu kupandangi pula posisi mereka tertidur. Fix, mereka seperti ikan pindang! Jejer sana jejer sini. Gak ada bedanya sama ikan pindang di dalam kuali yang sering dijual oleh embah-embah bertato naga indosiar di pasar.
Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Seuasana semakin sepi dan aktifitas mengaji/tadarrus yang dilakukan setiap malam bulan Ramadhan bun sudah beberapa jam tadi berakhir. Meski suasana semakin sepi, namun  mataku sama sekali tak mau terpejam. Perasaanku semakin tak menentu apalagi perlahan namun pasti, hasrat ingin pipis mulai muncul menggodaku untuk ke kamar mandi.
Kamar mandi dikontrakan kami berada di bagian belakang. Tepatnya diujung bangunan paling belakang. Sedangkan aku saat itu ada di ruang depan, dan untuk kesana harus melewati lorong kecil yang terlihat semakin mencekam dengan cahaya lampu bohlam yang sudah redup. Njiirrr..... aku benar-benar tak berani melakukannya! Oh Tuhaaannnn... tolong akuuuu! Hidupkanlah (eh, bangunkanlah!) salah satu temanku dan buatlah dia ingin pipis jugaaaa!. Namun harapanku tidak terkabul. Hingga beberapa saat kemudian, tak ada temanku yang terbangun dan tampaknya rasa lelah yang menghinggapi mereka mengalahkan segalanya.
Penderitaanku tak berakhir disitu. Tengah malam (entah kurang entah lebih, bodo amat) aku mendapat sambutan selamat datang dari para penghuni sebelum kami. Ctek.. zeengggggggg....... tiba-tiba saja pompa air (lak gak reti yo iku lho sanyo) menyala. Ctek... selang beberapa waktu kemudian pompa air itu mati kembali. Aku yang dari awal sudah ketakutan semakin ketakutan lagi dengan kejadian barusan. Aku yakinkan diri, memastikan apakah aku masih terjaga ataukah sudah tertidur dan barusan hanya mimpi. Sayang sekali, ternyata aku masih terjaga! Berarti apa yang aku alami benar-benar nyata! Selang beberapa waktu kemudian, kejadian itu berulang lagi. Ctek.... zeeennnggggrrrrr.... pompa air di kamar mandi menyala sendiri, disusul kemudian mati lagi dengan sendirinya. Aku lihat teman-temanku tampaknya tak ada satupun yang terbangun atau terganggu karena kejadian ini. Mereka masih saja tertidur dengan pulasnya tanpa mengerti bagaimana keadaanku saat itu. Aku, sedang dalam penderitaan kawan-kawaaaannn! Pliiissssss.... bangunlah salah satu dari kaliaannnn! Aku yang sedang ketakutan ditambah lagi harus menahan rasa pipis, hanya bisa meringkuk berpura-pura tertidur (tepatnya memaksakan diri untuk tidur) sembari berharap kejadian ini akan segera berakhir. Dan kurang ajarnya mereka, aku kebagian tempat untuk meringkuk di bagian paling pinggir yang berhadapan langsung dengan lorong yang tembus dengan kamar mandi! Seumpama makhluk itu membuka pintu yang menghubungkan antara kamar mandi dan lorong itu, tentulah dia langsung bisa melihatku yang tengah berjuang untuk tetap keren dalam situasi yang mereka ciptakan itu.
Akan tetapi sayangnya doaku tidak terkabul. Teman-teman tak ada satupun yang terbangun dan juga... mati-hidupnya pompa air itu berlangsung hingga menjelang tarkhim!. Coba bayangkan, 3 jam lebih aku harus menahan rasa takut yang amat sangat seperti itu.. lalu kenapa aku tak coba saja untuk kekamar mandi dan setidaknya “ngintipin” si pembuat ulah? Boro-boro ngintipin. denger suara pompa air hidup mati sendiri aja jantung udah mau brenti berdetak. Kalo nekat ngintipin bisa-bisa ini jantung brenti mendadak dan temen-temen sekontrakan bisa-bisa menemukan aku tergeletak tanpa nafas. Kan gak lucu? Ada cowok keren yang tergeletak tak berdaya karena takut dengan hantu. Bisa ditertawakan seluruh kampus nanti. Bagaimanapun, gengsi haruslah paling tinggi tempatnya dan lebih penting daripada keselamatan jiwa. Hwahwahwa. Lagian juga itu setan ngapain juga keluar dan gangguin aku di bulan puasa? Katanya setan-setan dikurung kalo bulan puasa? Lha ini kok ya masih ada yang berkeliaran? Bodo amat dah. Aku sudah 2 kali mendapati ada setan yang gangguin aku saat bulan puasa. Yang pertama ketika masih SMP kelas 3, di malam hari setelah terawih. Dan siapa lagi setannya kalo bukan Bang Wowo yang selalu buntutin aku dengan setianya.
Menjelang tarkhim, fenomena nyala-mati-nyala-mati si pompa air berakhir sudah. Dan satu demi satu teman-temanku yang tadi tertidur mulai bangun. Ketika mendapati aku meringkuk dengan kondisi mengenaskan -halah- maksudnya meringkuk seperti sedang tertidur, mereka pun membangunkanku untuk bersama-sama mencari menu sahur di daerah sekitar kontrakan. Dengan semangat berapi-api aku iya-kan ajakan itu. Lah? Daripada jadi menu sahur makhluk-makhluk tak kasat mata di kontrakan kami, mending aku keluar dulu aja mencari keramaian. Nanti kalo tu makhluk masih aja gangguin, biar digebukin rame-rame sama warga setempat. Dan kalo hal itu terjadi, aku akan berada di barisan paling depan buat melampiaskan dendam kesumat yang sudah mencapai ubun-ubun ini!
Dan malam pertamaku di kontrakan itu pun berakhir dengan penuh kesan karena sambutan hangat dan ulah para penghuni kontrakan sebelum kami. Aku tak menceritakan kejadian itu kepada siapapun, bahkan kepada Ris sekalipun. Sebuah malam pertama yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun. Dimana aku harus merasakan ketakutan yang... ah sudahlah... dan harus menahan pipis untuk waktu yang lama (aku akhirnya pipis di masjid deket tempat ibu-ibu penjual menu sahur. Karena akan lebih berbahaya bagi kredibilitas kekerenanku jika aku pipis di kamar mandi kontrakan. Gak lucu kan jika aku pipis dikontrakan lalu tiba-tiba aku menghilang diculik oleh makhluk tak kasat mata itu?). apa kata dunia jika seorang cowok keren menjadi korban penculikan dengan terdakwa makhluk astral tak kasat mata? Mau kemana juga teman-temanku harus melaporkan kejadian tersebut? Dukun? *mikir.....

Pasti pada mikir kan, siapa pelaku pencetat-cetet saklar pompa air alias sanyo malam itu? Nah, ini jawabannya. Jawaban ini aku dapat beberapa hari setelah kejadian. Sudah aku sebutkan diatas jika salah satu teman kontrakanku bernama Amien (nama kerennya Amien Chan, tapi nama aslinya Supramin alias Suparmin). Ini anak seringkali jiwanya kosong dan tersusupi oleh makhluk-makhluk astral yang mampir untuk mencoba tubuhnya. (dengan kata lain, ni anak sering banget kesurupan. Mulai dari pagi, siang, sore, malem, bahkan tengah malam sekalipun. Bahkan dia kesurupannya aneh-aneh terus. Mulai dari kesurupan kakek-kakek, nenek-nenek, anak-anak, bahkan sempat pula kesurupan hantu bencong yang dulunya sering mangkal di pantai Boom Tuban sana. Gak keren banget kan? Lebih gak keren lagi ketika dia kesurupan di Pantai Sowan. Cuma gara-gara apa coba? Cuma gara-gara waktu kegiatan PMI, dia nginjek batang kering dari salah satu pohon di pantai Sowan sana. Kayaknya itu hanyalah alesan yang dibuat oleh penunggu daerah sana untuk ngerjain si Amin ini deh... lagian juga setan penyurupnya kok ya bikin alesan gak masuk akal banget gitu.. kayak alesan yang di -ada-ada-in..). meski begitu, Amin ini diberikan kelebihan oleh Sang maha Pencipta berupa penglihatan mata batin yang kadang bisa terbuka dan tertutup sekehendaknya. (bahkan kadang gak dia hendaki). Menurut si Amin ini, kontrakan kami dihuni oleh 3 makhluk yang -menurutnya baik hati karena sering ngajak dia ngbrol dan memperlihatkan diri padanya-. Mereka adalah seorang nenek tua dan 2 orang cucunya yang masih usia dibawah 10 tahun. Mereka seringkali bermain di ruang depan kontrakan kami. Bahkan ketika tidur di malam pertama pun Amin tahu jika si nenek ada disana dan mengawasi kami yang sedang tertidur (kecuali aku). Lalu siapa yang mainin saklar pompa air saat itu? Itu adalah cucu si nenek yang memang dengan sengaja berbuat seperti itu untuk memberitahukan kepada kami bahwa kami tidaklah sendiri di rumah itu....
Nenek....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...