Showing posts with label Spesial. Show all posts
Showing posts with label Spesial. Show all posts

Tuesday, 25 July 2017

Akhirnya... GTT dan PTT Rembang Mendapatkan Bankesra dari Pemerintah Daerah

Me, Right Now... xixixixi
Bulan juli ini sepertinya angin perubahan sedang berhembus di Kabupaten Rembang. Bukan perubahan yang negatif, akan tetapi perubahan yang positif. Angin perubahan itu berhembus di Dunia Pendidikan Kabupaten Rembang dengan nama Bankesra Kabupaten Rembang bagi GTT / PTT yang mengabdi di wilayah ini. Tentu saja ini disambut dengan gembira oleh segenap GTT/PTT yang selama ini sudah melewatkan waktunya bertahun-tahun dengan menjadi tenaga pengajar atau tenaga kependidikan di berbagai sekolah yang ada di penjuru kabupaten. Mereka seolah mendapatkan harapan baru, semacam penyemangat dalam bentuk kepedulian pemerintah terhadap kinerja mereka selama ini. Bisa dikatakan, ini adalah sebuah bentuk perhatian yang massif dari pemangku kebijakan terhadap mereka yang melewatkan waktunya untuk menjadi tenaga pendukung pendidikan di tingkatan akar rumput. Bisa dikatakan pula, ini adalah kebijakan Kepala Daerah (dalam hal ini Bupati Rembang) yang langsung bisa dirasakan dikalangan bawah secara merata.
Artikel ini sengaja aku buat untuk sekedar ungkapan rasa terima kasih mewakili teman-teman GTT/PTT yang nasibnya kini lebih diperhatikan dan kesejahteraannya lebih ditingkatkan oleh Bupati Rembang. Bukan bermaksud apapun. Apalagi bertendensi tertentu terhadap kebijakan ini. Toh aku, berusaha menempatkan diri dalam situasi yang netral. Bukan sebagai pendukung dengan taklid buta, bukan juga sebagai oposan terhadap pemerintahan. Sekali lagi, aku berusaha menempatkan diri dalam kungkungan netralitas ketika membuat tulisan ini. Bukankah kita harus berlaku adil dalam berbagai aspek kehidupan? Kita berhak untuk mengkritisi pemerintah terhadap kebijakan-kebijakan yang sekiranya tidak mendukung kehidupan rakyat banyak, namun kita juga harusnya memberikan apresiasi terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai mampu untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat. Bukan hanya selalu mencari kesalahan dari penguasa dan memberikan pandangan yang menggiring opini negatif masyarakat terhadap pemerintahan. Setidaknya, kita bisa memberikan sumbangsih dengan menjadi masyarakat yang cerdas dan tidak mudah untuk terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu. Akan sangat penting jika kita mencari berita yang berimbang, untuk kemudian menentukan kesimpulan suatu kebijakan dari sudut pandang yang paling subjektif, tidak berdasar pada egoisme otak rendah semata. Apalagi di era saat ini banyak sekali artikel yang hanya mencari keburukan pemerintah, sedangkan sisi baiknya sama sekali tak tersentuh sedikitpun. Nah, dikarenakan aku berkecimpung di bidang pendidikan, maka kebijakan yang berhubungan dengan dunia inilah yang aku angkat.
Kebijakan Bupati Rembang (yang saat ini dijabat oleh H. Abdul Hafidz) untuk memberikan bankesra kepada GTT dan PTT dinilai akan memberikan banyak sekali dampak positif di kalangan pendidik. Selain pamor akan kebijakan yang dinilai pro rakyat meningkat pemberian bankesra ini juga disinyalir akan membuat riak-riak kecil di kalangan akar rumput yang selama ini merasa terabaikan jerih payah dan pengorbanannya, akan semakin mengecil atau bahkan menghilang. Memang selama ini pemerintah daerah pun tak menutup mata dengan kinerja guru non PNS. Hanya saja, alokasi bankesra yang selama ini didapatkan, tidak mencakup GTT ataupun PTT secara masif. Sehingga seringkali terjadi kecemburuan diantara sesama guru non PNS dan pegawai non PNS. Imbasnya adalah, banyak kekecewaan yang timbul dikarenakan tingginya rasa ke-aku-an dikalangan pendidik yang merasa lebih layak untuk mendapatkan tunjangan, tapi nyatanya harus terlempar dan tidak mendapatkan apa yang dirasanya menjadi miliknya (meski hanya sebatas klaim tak berdasar oleh mereka). Imbasnya lagi, istilah-istilah yang didasari rasa suudzon pun tumbuh dan berkembang dengan maraknya semisal “kedekatan membuat dia dapat tunjangan” atau “pantes saja... dia dapat... ternyata... “ dan lain sebagainya.
Kebijakan ini tentunya tak muncul begitu saja tanpa pengawalan atau pengusulan yang kontinue dari berbagai pihak. Salah satu pihak yang berjasa besar menurutku adalah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) kabupaten rembang baik tingkat PD II, cabang, hingga ranting yang selalu memperjuangkan hak dan peningkatan nasib serta kesejahteraan guru di wilayah ini, baik itu guru yang sudah berstatus sebagai PNS ataupun non PNS. Pengusulan dan pengawalan yang mereka lakukan tanpa mengenal lelah kini berbuah manis dan dapat dirasakan oleh hampir seluruh guru di kabupaten penghasil garam ini dengan keluarnya kebijakan pemberian insentif bagi guru non PNS secara menyeluruh (tentunya dengan syarat TMT -terhitung mulai tanggal- tertentu yang diberlakukan).
Logo PGRI
Tak hanya perhatian, pemberian bankesra bagi GTT dan PTT ini tentunya akan dianggap sebagai sebuah kepedulian pemerintah bagi para guru non PNS ini. Setidaknya, hal ini akan sedikit meringankan beban mereka dalam mencukupi kehidupan sehari-harinya, terlebih, banyak diantara mereka yang beban kerjanya setara atau bahkan lebih berat daripada guru yang sudah PNS dan bersertifikasi. Bentuk kepedulian pemerintah ini ibarat harapan yang tak lagi kosong dan merupakan langkah nyata sebagai sebuah penghargaan atas kinerja telah yang mereka lakukan.
Segala hal pasti memiliki sisi positif dan sisi negatif yang menyertainya. Begitu juga dengan kebijakan pemerintah daerah yang memberikan insentif Bankesra secara masif kali ini. Apa itu sisi negatifnya? Tentu saja masalah kecemburuan akan perhatian. Gelontoran dana yang nominalnya tidak sedikit ini tentu saja membuat beberapa pihak merasa cemburu. Maksud cemburu disini adalah cemburu dalam hal perhatian dan kepedulian pemerintah. Bisa saja pekerja-pekerja lain nantinya akan mencemburui profesi guru yang “seolah-olah” (ini seolah-olah dengan tanda kutip) selalu diprioritaskan dalam hal apapun terutama pendanaan. Mulai dari tingkat pusat yang mengharuskan APBN 20%, hingga tingkat daerah. Bukankah selama ini guru sudah menjadi profesi yang di “iri” kan oleh pekerja lain karena menjadi satu-satunya profesi yang mendapatkan sertifikasi dengan nominal utuh satu kali gaji? Apalagi ditambah dengan suntikan dana bagi GTT/PTT yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Bisa jadi nanti akan ada semacam rasa “ingin disamakan” dengan guru. Namun, semoga saja ketakutan akan hal ini tidak berlanjut sehingga semua aspek dapat berjalan sesuai dengan standar dan tugasnya masing-masing.
Mungkin sebagai konklusi tulisan ini, diharapkan, dengan kebijakan daerah yang menyentuh kalangan akar rumput dunia pendidikan di kabupaten Rembang ini akan semakin meningkatkan kinerja para guru dan tenaga kependidikan, sehingga kedepannya akan tercipta peningkatan kualitas dan mutu pendidikan di sekolah dengan tujuan akhir adalah terciptanya output peserta didik yang mampu untuk bersaing dalam ketatnya globalisasi dengan berlandaskan etika dan nilai-nilai luhur kebangsaan seperti yang dicita-citakan oleh Negara yang bernama Indonesia Raya ini.
Minggu ini, minggu terakhir di bulan juli 2017, GTT/PTT di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang telah melakukan proses penandatanganan berkas pencairan Bankesra. Itu berarti, wujud nyata kepedulian pemerintah terhadap kerja keras mereka yang selama ini telah mendedikasikan hidupnya dalam membangun pengetahuan dan sikap para peserta didik. Dan semoga saja, sebentar lagi, Bankesra yang dijanjikan oleh Bapak Bupati dalam setiap acara yang beliau hadiri akan segera terrealisasikan, sehingga GTT/PTT di Kabupaten Rembang, dapat menikmati “Sertifikasi ala GTT” seperti yang selama ini dinikmati oleh para PNS... sertifikasi GTT? Ah, anggap sajalah seperti itu.

Terima Kasih Guru, Terima Kasih PGRI, Terima Kasih Bapak Bupati, Terima Kasih Para Pemangku Kebijakan...

Monday, 24 July 2017

Eksistensi Diri... Mereka Memang Ada...


Sudah sedari kecil sepertinya aku mempunyai penyakit susah tidur karena ketakutan akan sesuatu secara berlebihan. Jadi bagiku, suatu hal yang sangat menyenangkan atau bahkan cenderung suatu kemewahan jika aku bisa mendapati diriku bisa tidur dengan nyenyak. Karena selain susah tidur, saat tertidur pun seringkali aku terbangun dengan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Beberapa tahun ini juga sepertinya begitu. Aku sering merasakan ngantuk, tapi ketika dipakai untuk rebahan, sangat sulit untuk memejamkan mata dan tertidur pulas. Apalagi saat awal-awal hendak tidur. Sangat sulit untuk bisa terlelap, malah bahkan saat mencoba tertidur aku terhentak dengan tiba-tiba dan terjaga kembali tanpa tahu apa penyebabnya. Aku masih ingat ketika kecil, semalaman aku gak bisa tidur gara-gara nonton acara tipi dan disana ada adegan seekor hantu yang muncul dari balik jendela. (aslinya hantu itu didefinisikan sebagai seekor, sebuah sebutir, sebiji atau sebatang ya). Alhasil, malam itu, aku kepikiran terus dan gak bisa tidur gara-gara mantengin jendela yang ada didinding utara kamarku. Takut jika embak-embak yang aku lihat di tipi tadi tiba-tiba muncul dan nyengir dijendela kamarku sembari melambai-lambaikan tangan layaknya seorang penumpang yang sedang mencoba memberhentikan sebuah bus. Mataku melotot semalaman dan Ketakutan tingkat tinggi malam itu tak terbendung sampai akhirnya aku baru bisa tertidur menjelang pagi. Alhasil, sulit mataku untuk terbangun di pagi harinya, dan bisa ditebak, berangkat sekolah pun menjadi terlambat.
Yang aku tahu, sedari kecil aku sudah mengalami ketakutan yang sangat berlebihan terhadap sesuatu. Iya, ketakutan kepada hantu seperti yang sudah aku ceritakan diatas! Paling tidak sudah 4 atau 5 kali aku harus berurusan dengan yang namanya hantu. Belum lagi yang gangguan-gangguan kecil ketika sedang melakukan kegiatan perkemahan. Mulai dari jubah-jubah yang berseliweran sekilas-sekilas, sampe fenomena eksisnya penghuni-penghuni lokasi perkemahan yang kami tempati. Dan tahu gak, yang menjadi fans beratku adalah Abang genderuwo (biasa aku panggil dengan nama bang wowo) yang seringkali dengan teganya dia gangguin anak kecil yang imut, manis, ganteng dan juga keren seperti aku. Setiap kali aku menceritakan pengalaman-pengalamanku tentang si Abang ini, seringkali istriku merasa ketakutan. Tapi, bukan aku namanya kalo lihat istriku ketakutan tentang cerita hantu, terus aku berhenti cerita. Kadang malah aku godain dek bojo dengan cerita-ceritaku ini. Hihihihihi... *pernah suatu kali, sebelum tidur, aku cerita tentang salah satu pengalamanku. Hasilnya, malah aku sendiri yang gak bisa tidur nyenyak. Tiap kali mau ke kamar mandi, dek Bojo bangunin aku dan suruh nganterin ke kamar mandi. Ibarat senjata makan tuan buatku ya... haha..

Aku bukanlah seorang yang dikaruniai indera ke enam oleh Sang Maha Kuasa, tapi, gak tau kenapa aku bisa begitu paranoid dan ketakutan ketika merasakan sesuatu yang aku sendiri gak tau wujudnya. Tiba-tiba saja jika ke suatu tempat aku merasakan hal-hal aneh dan membuat bulu kuduk merinding... (ini bulu kuduk, bukan bulu ketek lho ya...). gak peduli tempat itu rame, ato sepi, terkadang tiba-tiba saja suasana menjadi aneh dan perasaan menjadi gak enak. Mungkin saja disekitar sana ada petugas penagih hutang ya? Sampe perasaan gak enak gitu. Bukannn, bukannn... ini tentang perasaan yang gak tenang karena sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.
Mungkin pengalaman yang paling menyebalkan buatku (dan mungkin juga paling menyeramkan) adalah ketika aku dan sahabatku yang bernama Ris pindah dari kos yang lama buat ngontrak rumah bareng teman-teman yang lain. Seingatku kami saat itu ber 7. ada Erix, Slamet, Aryo, Imam, Amin, Ris dan aku. Dan masih aku ingat juga ketika itu adalah malam jumat dan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Setelah dirasa selesai dalam membereskan kosan lama, aku, Ris dan Aryo bergegas untuk boyongan ke kontrakan yang baru. Disana teman-teman yang lain juga baru saja tiba dan segera beberes karena hari yang mulai beranjak senja agar tidak telat dalam berbuka puasa.
Kontrakan yang kami tempati tidaklah terlalu besar. Hanya ada 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur (tepatnya ruang kosong yang kami fungsikan untuk dapur) dan juga ruang depan yang seringkali kami gunakan untuk tidur secara berjamaah. Mebelair? Jelas saja kosong. Tipi? Kosong juga. Pertama kali tiba disana, keadaan kontrakan kami sangat kotor. Karena menurut yang empunya, sudah lebih dari 5 tahun bangunan yang kami kontrak itu hanya digunakan sebagai gudang. Jadi sangat wajar jika keadaan tidak terurus dan sangat berdebu. Meski begitu, kami (tentunya gak termasuk aku) berusaha keras untuk “melayakkan” bangunan tersebut agar bisa ditempati oleh makhluk yang bernama manusia.
Benar saja, kami belum selesai membersihkan seluruh ruangan ketika adzan maghrib berkumandang. Dengan hidangan seadanya, kami melakukan buka puasa pertama di kontrakan itu. Skip, selesai berbuka, kami sholat maghrib dan dilanjutkan kembali dengan acara bersih-bersih yang belum selesai itu. Kegiatan itu kami lakukan hingga kurang lebih pukul sembilan malam. Jangan tanya kami sholat tarawih atau gak pada malam itu. Ya jelas saja gak tarawih laaahhh... (*jangan ditiru)
Selepas bersih-bersih diri, kami bercengkerama di ruang depan. Tanpa tipi, tanpa hiburan dan tanpa apapun selain kami. Satu jam, dua jam, satu persatu dari kami terlelap mengarungi mimpi yang semoga saja gak ada yang indah. Sedangkan aku, sama seperti kebiasaan yang sudah-sudah, aku gak bisa tidur jika berada di suasana baru atau merasakan perasaan yang aneh. Aku terus terjaga hingga beberapa lama sembari berharap semoga saja semuanya baik-baik saja dan gak ada abang wowo yang tiba-tiba nongol. Jika saja bang wowo sampe nongol saat itu, mungkin bakalan kami gebukin rame-rame. Itung-itung sebagai balas dendam karena selama ini sudah sering ngagetin aku dalam beberapa kesempatan.
Abang Wowo
Aku lihat jam di layar HP bututku sudah menunjukkan jam sebelas lebih sekian menit. Tapi mataku seolah ada yang mengganjal untuk tak terpejam. Sementara teman-temanku sudah saling berpacu dalam tidurnya meninggalkan suara dengkur yang salaing bersahutan seperti orkestra kurang modal. Aku pandangi wajah temanku satu persatu, lalu kupandangi pula posisi mereka tertidur. Fix, mereka seperti ikan pindang! Jejer sana jejer sini. Gak ada bedanya sama ikan pindang di dalam kuali yang sering dijual oleh embah-embah bertato naga indosiar di pasar.
Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Seuasana semakin sepi dan aktifitas mengaji/tadarrus yang dilakukan setiap malam bulan Ramadhan bun sudah beberapa jam tadi berakhir. Meski suasana semakin sepi, namun  mataku sama sekali tak mau terpejam. Perasaanku semakin tak menentu apalagi perlahan namun pasti, hasrat ingin pipis mulai muncul menggodaku untuk ke kamar mandi.
Kamar mandi dikontrakan kami berada di bagian belakang. Tepatnya diujung bangunan paling belakang. Sedangkan aku saat itu ada di ruang depan, dan untuk kesana harus melewati lorong kecil yang terlihat semakin mencekam dengan cahaya lampu bohlam yang sudah redup. Njiirrr..... aku benar-benar tak berani melakukannya! Oh Tuhaaannnn... tolong akuuuu! Hidupkanlah (eh, bangunkanlah!) salah satu temanku dan buatlah dia ingin pipis jugaaaa!. Namun harapanku tidak terkabul. Hingga beberapa saat kemudian, tak ada temanku yang terbangun dan tampaknya rasa lelah yang menghinggapi mereka mengalahkan segalanya.
Penderitaanku tak berakhir disitu. Tengah malam (entah kurang entah lebih, bodo amat) aku mendapat sambutan selamat datang dari para penghuni sebelum kami. Ctek.. zeengggggggg....... tiba-tiba saja pompa air (lak gak reti yo iku lho sanyo) menyala. Ctek... selang beberapa waktu kemudian pompa air itu mati kembali. Aku yang dari awal sudah ketakutan semakin ketakutan lagi dengan kejadian barusan. Aku yakinkan diri, memastikan apakah aku masih terjaga ataukah sudah tertidur dan barusan hanya mimpi. Sayang sekali, ternyata aku masih terjaga! Berarti apa yang aku alami benar-benar nyata! Selang beberapa waktu kemudian, kejadian itu berulang lagi. Ctek.... zeeennnggggrrrrr.... pompa air di kamar mandi menyala sendiri, disusul kemudian mati lagi dengan sendirinya. Aku lihat teman-temanku tampaknya tak ada satupun yang terbangun atau terganggu karena kejadian ini. Mereka masih saja tertidur dengan pulasnya tanpa mengerti bagaimana keadaanku saat itu. Aku, sedang dalam penderitaan kawan-kawaaaannn! Pliiissssss.... bangunlah salah satu dari kaliaannnn! Aku yang sedang ketakutan ditambah lagi harus menahan rasa pipis, hanya bisa meringkuk berpura-pura tertidur (tepatnya memaksakan diri untuk tidur) sembari berharap kejadian ini akan segera berakhir. Dan kurang ajarnya mereka, aku kebagian tempat untuk meringkuk di bagian paling pinggir yang berhadapan langsung dengan lorong yang tembus dengan kamar mandi! Seumpama makhluk itu membuka pintu yang menghubungkan antara kamar mandi dan lorong itu, tentulah dia langsung bisa melihatku yang tengah berjuang untuk tetap keren dalam situasi yang mereka ciptakan itu.
Akan tetapi sayangnya doaku tidak terkabul. Teman-teman tak ada satupun yang terbangun dan juga... mati-hidupnya pompa air itu berlangsung hingga menjelang tarkhim!. Coba bayangkan, 3 jam lebih aku harus menahan rasa takut yang amat sangat seperti itu.. lalu kenapa aku tak coba saja untuk kekamar mandi dan setidaknya “ngintipin” si pembuat ulah? Boro-boro ngintipin. denger suara pompa air hidup mati sendiri aja jantung udah mau brenti berdetak. Kalo nekat ngintipin bisa-bisa ini jantung brenti mendadak dan temen-temen sekontrakan bisa-bisa menemukan aku tergeletak tanpa nafas. Kan gak lucu? Ada cowok keren yang tergeletak tak berdaya karena takut dengan hantu. Bisa ditertawakan seluruh kampus nanti. Bagaimanapun, gengsi haruslah paling tinggi tempatnya dan lebih penting daripada keselamatan jiwa. Hwahwahwa. Lagian juga itu setan ngapain juga keluar dan gangguin aku di bulan puasa? Katanya setan-setan dikurung kalo bulan puasa? Lha ini kok ya masih ada yang berkeliaran? Bodo amat dah. Aku sudah 2 kali mendapati ada setan yang gangguin aku saat bulan puasa. Yang pertama ketika masih SMP kelas 3, di malam hari setelah terawih. Dan siapa lagi setannya kalo bukan Bang Wowo yang selalu buntutin aku dengan setianya.
Menjelang tarkhim, fenomena nyala-mati-nyala-mati si pompa air berakhir sudah. Dan satu demi satu teman-temanku yang tadi tertidur mulai bangun. Ketika mendapati aku meringkuk dengan kondisi mengenaskan -halah- maksudnya meringkuk seperti sedang tertidur, mereka pun membangunkanku untuk bersama-sama mencari menu sahur di daerah sekitar kontrakan. Dengan semangat berapi-api aku iya-kan ajakan itu. Lah? Daripada jadi menu sahur makhluk-makhluk tak kasat mata di kontrakan kami, mending aku keluar dulu aja mencari keramaian. Nanti kalo tu makhluk masih aja gangguin, biar digebukin rame-rame sama warga setempat. Dan kalo hal itu terjadi, aku akan berada di barisan paling depan buat melampiaskan dendam kesumat yang sudah mencapai ubun-ubun ini!
Dan malam pertamaku di kontrakan itu pun berakhir dengan penuh kesan karena sambutan hangat dan ulah para penghuni kontrakan sebelum kami. Aku tak menceritakan kejadian itu kepada siapapun, bahkan kepada Ris sekalipun. Sebuah malam pertama yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun. Dimana aku harus merasakan ketakutan yang... ah sudahlah... dan harus menahan pipis untuk waktu yang lama (aku akhirnya pipis di masjid deket tempat ibu-ibu penjual menu sahur. Karena akan lebih berbahaya bagi kredibilitas kekerenanku jika aku pipis di kamar mandi kontrakan. Gak lucu kan jika aku pipis dikontrakan lalu tiba-tiba aku menghilang diculik oleh makhluk tak kasat mata itu?). apa kata dunia jika seorang cowok keren menjadi korban penculikan dengan terdakwa makhluk astral tak kasat mata? Mau kemana juga teman-temanku harus melaporkan kejadian tersebut? Dukun? *mikir.....

Pasti pada mikir kan, siapa pelaku pencetat-cetet saklar pompa air alias sanyo malam itu? Nah, ini jawabannya. Jawaban ini aku dapat beberapa hari setelah kejadian. Sudah aku sebutkan diatas jika salah satu teman kontrakanku bernama Amien (nama kerennya Amien Chan, tapi nama aslinya Supramin alias Suparmin). Ini anak seringkali jiwanya kosong dan tersusupi oleh makhluk-makhluk astral yang mampir untuk mencoba tubuhnya. (dengan kata lain, ni anak sering banget kesurupan. Mulai dari pagi, siang, sore, malem, bahkan tengah malam sekalipun. Bahkan dia kesurupannya aneh-aneh terus. Mulai dari kesurupan kakek-kakek, nenek-nenek, anak-anak, bahkan sempat pula kesurupan hantu bencong yang dulunya sering mangkal di pantai Boom Tuban sana. Gak keren banget kan? Lebih gak keren lagi ketika dia kesurupan di Pantai Sowan. Cuma gara-gara apa coba? Cuma gara-gara waktu kegiatan PMI, dia nginjek batang kering dari salah satu pohon di pantai Sowan sana. Kayaknya itu hanyalah alesan yang dibuat oleh penunggu daerah sana untuk ngerjain si Amin ini deh... lagian juga setan penyurupnya kok ya bikin alesan gak masuk akal banget gitu.. kayak alesan yang di -ada-ada-in..). meski begitu, Amin ini diberikan kelebihan oleh Sang maha Pencipta berupa penglihatan mata batin yang kadang bisa terbuka dan tertutup sekehendaknya. (bahkan kadang gak dia hendaki). Menurut si Amin ini, kontrakan kami dihuni oleh 3 makhluk yang -menurutnya baik hati karena sering ngajak dia ngbrol dan memperlihatkan diri padanya-. Mereka adalah seorang nenek tua dan 2 orang cucunya yang masih usia dibawah 10 tahun. Mereka seringkali bermain di ruang depan kontrakan kami. Bahkan ketika tidur di malam pertama pun Amin tahu jika si nenek ada disana dan mengawasi kami yang sedang tertidur (kecuali aku). Lalu siapa yang mainin saklar pompa air saat itu? Itu adalah cucu si nenek yang memang dengan sengaja berbuat seperti itu untuk memberitahukan kepada kami bahwa kami tidaklah sendiri di rumah itu....
Nenek....

Friday, 21 July 2017

Sebuah Perjalanan... ADA Band Chemistry Full Album


Sebuah Pendewasaan... itulah yang dapat aku simpulkan ketika mendapatkan album terbaru ADA Band yang bertajuk “Chemistry”. Album ke 10 sejak berganti vokalis ini memuat cerita yang lebih dewasa dibandingkan dengan album-album terdahulu mereka. Sebuah perjalanan... iya, jika diibaratkan sebuah fase kehidupan yang harus dijalani, album ADA Band memang selayak untaian sebuah perjalanan. Jika kita ingat dulu pada awal 2003 ketika album metamorphosis rilis, lagu-lagu yang mereka bawakan seolah mewakili perasaan para remaja yang sedang berbunga-bunga -lihat saja lagu “Masih (Sahabatku Kekasihku), Manja, Kaulah, Tinggalkan saja dia- yang penuh dengan warna khas remaja yang tengah berbunga hatinya.
Fase selanjutnya masih sama, dalam album ke 3 (Heaven of Love), masih mewakili perasaan para remaja yang sedang jatuh hati. Sebelum album ini rilis, diselingi dengan album discoghraphy The Best Of... yang memuat 2 lagu yang gak asing di telinga kita semacam jadikan aku raja dan “Kemanakah” <<<< yang ini kayaknya asing. Tapi bener kok lagu ini mendayu-dayu karena hanya diiringi oleh alunan piano dari Khrisna. Overall, hingga saat ini, mungkin album heaven of love ini adalah album yang paling keren yang pernah dirilis oleh ADA Band dengan formasi lama. Karena setelah album ini, macam album Romantic Rhapsody, Cinemastory (Ost Film Indonesia Berjudul “Selamanya” yang diperankan oleh Dimas Seto dan Julie Estelle”), tidak segemerlap sambutan masyarakat seperti album Heaven Of Love meski sama-sama mengusung tema cinta dan kasih sayang sebagai yang utama.
Begitu juga dengan album Harmonious, Mistery of Musical, Empati, Masa Demi Masa, semuanya juga masih bercerita tentang cinta. Meski porsinya berbeda dan.... bercerita juga tentang patah hati.
Baru pada album Chemistry ini aku menemukan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih dewasa dalam materi lagu-lagunya. Seolah mengerti dengan perasaanku, pada album ini berisi muatan muatan lagu yang bercerita tentang keluarga, tentang anak, tentang kasih sayang yang tulus seorang ayah kepada anaknya, dan ketidakrelaan seorang ayah ketika akan berpisah dengan buah hatinya. Semua ini seolah mewakili apa yang aku rasakan. Mana ada seorang ayah yang rela jika harus berpisah dengan anaknya?
Di album berisi 10 lagu ini, tampaknya memang dibuat lebih bervariasi. Masih ada juga lagu tentang cinta meski porsinya semakin sedikit (yang paling mewakili adalah I’m crazy about you, imajinasi, percuma bilang cinta). Sedangkan lagu lain terkesan memiliki penafsiran ganda (lagu kucuri lagi hatimu, bisa jadi ini adalah perasaan untuk keluarga yang pernah terkoyak, bukan kepada kekasih, lagu Kaulah Kesukaanku juga bisa ditafsirkan ganda. Bisa jadi ini adalah lagu untuk keluarga jika melihat kata-kata yang dilantunkan oleh Doni. Dan yang paling jelas adalah lagu untuk sang anak bertajuk “Buah Hatiku” yang bercerita tentang kelahiran sang anak, dan juga “Ku Selalu Untukmu” yang bercerita tentang kesedihan ketika harus berpisah sementara dengan sang buah hati. Jika mendengarkan lagu ini, selalu saja langsung teringat kepada Adeeva Shakila Afsheen Almeera disana. Makanya ketika sedang bekerja sambil memutar album ini, seringkali aku skip untuk 2 lagu ini. Sekuat apapun seorang ayah, dia tak akan mampu menahan rindu yang sangat besar kepada buah hatinya. Dan aku sudah membuktikan hal itu... miss you dek Deeva...
Sebuah perjalanan.. mungkin 2 kata itu yang bisa aku jadikan sebuah konklusi untuk album ADA band. Mulai dari 2003 (album metamorphosis yang sering aku putar lewat VCD player saat itu di setiap pagi sambil bersiap berangkat sekolah), hingga Chemistry 2016 yang menemaniku menyelesaikan berbagai pekerjaan, semuanya seolah melengkapi puzzle perjalanan yang pernah aku lalui. Masa SMP, SMA, Kuliah, Kerja, Nganggur, Kerja, Keluyuran, semuanya tercakup dalam sebuah perjalanan bernama “ADA Band”
Bagi yang ingin Album ADA Band “Chemistry”, aku berikan linknya. Beberapa waktu lalu sudah aku simpan di akun mediafire. Lengkap berisi 10 lagu.
1.     Kucuri Lagi Hatimu
2.    Kaulah Kesukaanku
3.    Siap Melepasmu
4.    Imajinasi
5.    Percuma Bilang Cinta
6.    Buah Hatiku
7.    Ku Selalu Untukmu
8.    I’m Crazy About You
9.    Serasa Beda
10. Berbeda Soal Biasa

Link Download via Mediafire

Thursday, 20 July 2017

Aku Wisuda Lagi Ya?


Hallo sobat blogger, lama juga ya aku ndak nulis lagi di blog ini. Biasa sebagai pengangguran sukses aku sedang mencoba untuk mencari kesibukan yang bisa menghasilkan. Tau gak sih, ketika pertama kali buka ini blog, hal pertama yang aku lihat adalah... banyak sarang laba-laba di pojokan! Sampah-sampah berserakan, dan gak lupa keadaan yang mengenaskan karena sudah lama banget gak pernah tersambangi. Bahkan ada juga yang terlihat sedang membangun rumah kumuh di pojokan lain dari blog ini... Coba bayangkan, gimana jadinya blog ini jika begini terus menerus? Bisa-bisa ini blog datang dalam mimpi dan berteriak keras-keras “aku tuh gak bisa di giniin!” nah lhoo? Jadi serba salah kan? Mau jawab apa coba kalo sampe blog ini bilang gitu? Permintaan maaf tentunya gak bakalan cukup...
          Emmmm.... gimana ya, aku sebenarnya mau cerita tentang bulan juli ini. Tau ada apa dengan bulan juli? Bulan tahun pelajaran baru? Tentu saja iya. Bulan sebelum bulan agustus? Iya kuga jawabannya. Tapi itu semua tentu jawaban yang sangat mainstream dan bisa dijawab sama kakek-kakek tatoan ato nenek-nenek yang suka koprol depan serta koprol belakang. Tau gak, bulan juli ini, aku mendengar kabar kalo aku akan diwisudaaaaaaa! Horeeeeee..... hiyesss... hiyesss.... *bentar, bentar, bukannya udah wisuda beberapa tahun yang lalu? Iya benar aku udah wisuda beberapa tahun lalu, tapi, di kuliah kemarin ini, baru akan wisuda di bulan juli tahun ini... (yang sering aku definisikan sebagai kuliah yang peserta kuliahnya lebih banyak orang-orang tuanya daripada anak-anak mudanya. Banyak emak-emaknya daripada bapak-bapaknya...) -ini gak penting banget kan definisinya? Haha..
          Farewell party? Ah udah gak jaman lah untuk kita. Udah pada tua-tua juga ngapain ada farewell-farewell party an. Mending banyak-banyakin dzikir biar terampuni dosa-dosanya.. ngomong-ngomong masalah dosa, sepertinya aku punya banyak dosa pada teman-teman sekelas deh. Selama satu setengah tahun ini, seringkali dalam perdebatan atau diskusi yang terjadi didalam proses pembelajaran, aku sering (mungkin sih) mengeluarkan kata-kata yang bisa jadi menyakiti bapak-ibu teman sekelas dalam perkuliahan ini. Hemmm... bagaimana jika aku minta maaf? Tapi aku yakin kok, tanpa meminta maaf pun mereka semua sudah memaafkan aku.. hiihihihihi.... untuk teman-teman sekelas, aku minta maaf ya dengan tulus hati dan sepenuh jiwa jika kemarin-kemarin sewaktu kita berkuliah, sering membuat anda semua erosi jiwa. Pak Sholeh, Pak Kadiman, Pak Sugiyanto, Bang Jakar, Mas Umam, Pak Muhaji, Bu Parwati, Bu Imroatun Azizah, Bu Nurul Wahyuni, Bu Nurul Istiana, Bu Sulastri, Bu Windi, Bu Qoim, Bu Rani, Bu Nunuk, Bu Karsiatin, Bu Pristawati, Bu Lilik, Bu Novi, Bu Darwati, Bu Rudaningsih, Bu Lamah, Bu Sumisih dan aku sendiri, M. Fuad S. T, meminta maaf kepada panjenengan-panjenengan semua atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah aku lakukan selama kita bersama (itu kenapa minta maaf juga pada Fuad ST, bukannya itu sama aja minta maaf pada diri sendiri? Tau ah.. bodo amat..). Terutama pada Bang Jakar, Pak Kadiman, dan Pak Soleh yang kemana-mana selalu bersama dan saling mencela serta menghina diluar batas kewajaran manusia. Maafkan aku yang sering mencela dan menghina kalian bertiga, meskipun selama ini aku sadar bahwa tanpa aku cela dan aku hina pun kalian bertiga sudah tercela dan terhina dari sananya... paling terutama lagi untuk pak Soleh yang sudah aku anggap seperti bapak sendiri (karena nama bapakku juga sama dengan orang ini, ganti nama napa pak? Biar gak sama-an sama nama bapakku. Hiiiiihiii).
          Emmm... biasanya dalam sebuah tulisan, konklusi dan bagian terpenting adalah pada bagian belakang tulisan menjelang akhir tulisan... iya, ini sama kok. Aku memberikan bagian yang paling spesial dan bagian terpenting dibagian belakang ini. Yaitu... bagian untuk keluarga, terutama dari yang paling utama adalah anakku tercinta Adeeva Shakila Afsheen Almeera dan istriku tercinta Fevi Ariastana. Tentunya ucapan terima kasih dan maaf juga gak cukup untuk menggambarkan pengorbanan mereka berdua. Terima kasih karena selama perkuliahan ini berjalan, telah memberi dukungan, baik moril serta materil demi terselesaikannya kuliah ini. Terima kasih karena selama ini telah mengerti dengan segala kesibukan seorang pengangguran yang sedang mencari pekerjaan yang seadanya, terima kasih karena telah memaklumi waktu-waktu yang seharusnya kita gunakan berkumpul harus tersita untuk aktifitas belajar dan pengerjaan tugas. Maaf juga karena selama menuntut ilmu, banyak waktu yang seharusnya bisa membuat kita bersama harus terlewat demi perkuliahan.. terima kasih dan maaf untuk semua hal yang mungkin terlupa disini... my wife always understand me and she will be...
          Oke, selamat wisuda teman-teman. Semoga kedepannya kita dapat berkumpul kembali dalam kesuksesan bersama!

          
Both of You are so special...

Tuesday, 1 November 2016

Arti Lambang Gerakan Pramuka SMAN 1 Pamotan (Ambalan Bima Sena dan Arimbi)

Badge Bima Sena of SMAPA

Haaahh.... lama gak bisa update blog ini gara-gara sekarang kesibukan sebagai tukang wira-wiri semakin bertambah. Sampai lama gak bisa mampir ke blog ini.. aslinya sih ya, jarang ngeblog gara-gara gak ada bahan buat nulis. Jadi biar agak keren ya pakai alasan jadi orang sibuk. Gitu kan kelihatannya lebih gimana gitu di mata masyarakat umum... waaaaauuuuu... *suara jangkrik mulai membuat bulu ketek berdiri.
Begini asal muasal sampai aku harus turun tangan menulis blog ini lagi. Kemarin tuh ya, kemarinnya kemarin, tiba-tiba ada yang BBM aku (eiiitssss... jangan underestimate dulu. Begini-begini sekarang aku udah punya BB lho. Gak kayak dulu. Sekarang aku mah orangnya keren. Pengen bukti? Noohh, istri dan anakku aja keren. Pasti aku juga keren dong... *penonton protes). sampai dimana tadi? Oh ya sampai asal muasal cerita kenapa aku nulis postingan ini. Begini.. ketika itu, aku di BBM oleh salah satu guru daru SMAN 1 Pamotan (maaph pemirsah, aku gak akan memberitahu kalian jika yang BBM + miskol 1 x dengan durasi 3 detik itu namanya Pak Agus Isnanto. Biar ini tetap menjadi rahasia kami berdua saja. Agar semua gak tahu jika yang menghubungiku adalah pak Agus Isnanto.)
Beliau waktu itu bertanya tentang arti dari lambang Ambalan SMA kita dulu (mungkin karena saat itu beliau sedang mengisi acara kepramukaan di SMAN 1 Pamotan dan lupa dengan arti dari lambang ambalan kita dulu. Lalu kenapa tanyanya ke aku? Dulu aku juga sekolah disana. Jangan salah, jelek-jelek gini juga aku sekolah SMA Tauk.. jangan suka menghina gitu dongg..). Sreeeepppp.... aku berfikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan beliau (yah kira-kira seminggu lah aku berfikirnya... *bisa kelar itu acara Pramuka kalau aku berpikirnya seminggu. Ngaco amat...). karena mengalami pikiran buntu dan tidak mampu menjangkau kenangan yang terkubur beberapa ratus tahun yang lalu akhirnya aku minta untuk dikirimkan gambar ambalan Pramuka SMAN 1 Pamotan. (aku ingatnya saat itu hanya nama Ambalan yaitu Arimbi dan Bima Sena, serta kata-kata “Krida Tyasing Hagni” yang terukir di Badge ambalan kita dulu).
“Pak Dhe... aku terangke Badge Bimasena”. Kira-kira begitulah permintaan dari Pak Agus Isnanto waktu itu. Haiisshh... sebenarnya sulit saat itu untuk menjelaskan. Lupa-lupa ingat dan juga seingatku dulu kami gak pernah diberikan penjelasan secara ekslusif mengenai hal ini. Namun jika ada gambarnya pasti bisa teringat kembali (mudah-mudahan). Ketika aku coba searching ke simbah dengan keyword “Lambang Bimasesa” atau “Lambang Arimbi” atau pencarian dengan keyword sejenis yang nyerempet-nyerempet itu, ternyata juga simbah belum ada yang unggah dalam bentuk jpeg atau turunan vektor. Yah akhirnya mau ndak mau ya minta dikirimin Pak Agus.. dan Alhamdulillah kemarin gambar vektor sederhana dari Ambalan SMAN 1 Pamotan sudah jadi dan bisa dijadikan sebagai gambar di postingan kali ini. (mohon jangan dihina apalagi dipuji. Gambar yang aku buat masih dalam tahap beta, jadi masih butuh banyak penyempurnaan disana-sini)
Kembali lagi ke topik. Setelah melihat gambar badge Arimbi kurang cahaya yang dikirimkan Pak Agus (Mungkin karena memotretnya tidak dengan menggunakan cinta kasih dan kesetiaan.. Wtf, Masa bodo ah dia poto badge nya siapa. Xaxaxaxa) akhirnya ingatanku kembali ke zaman ketika masih mengenakan seragam pramuka dulu. Iya, dulu aku juga aktif di Pramuka. Kalo ndak percaya sini deh aku tunjukin kalo aku juga masih bisa melakukan tepuk pramuka... tepuk pramuuuka! Prok prok prok! Prok prok prok! Prok prok prok prok prok prok prok!! (hormat dan salim untuk pak Didik Pudianto yang menjadi mentor Pramuka kami ketika KML 2013 dulu). Sekilas setelah melihat badge Ambalan SMAPA, akhirnya bisa juga mengingat-ingat makna apa yang terkanding didalamnya.. mari kita jabarkan bersama-sama (Untuk pihak-pihak terkait, kakak senior, adek junior Bapak Ibu Guru SMAPA, mohon diberi masukan dan dibenarkan jika apa yang tertulis disini merupakan suatu kekeliruan. Terima kasih sebelumnya.. _/\_ )
          Seperti yang kita tahu, dalam lambang gerakan pramuka SMAPA (badge Bimasena ataupun Arimbi) terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
1.     Warna Dasar Biru.
Lambang dasar dari badge ambalan SMAPA adalah biru (ini biru atau abu-abu siiihh? Kok warnanya rancu gini?). Ini menandakan bahwa ambalan ini berada di tingkatan SMA yang identik dengan warna biru atau abu-abu. Makna lain adalah warna identitas SMA Pamotan (meski bangunannya kebanyakan berwarna krem, namun warna biru dahulu sering digunakan dalam berbagai seragam di SMAPA. Baik itu seragam olah raga guru, ataupun kaos olahraga yang dipakai oleh tiap angkatan di SMAPA. Contohnya, seragam olahraga kami angkatan masuk 2003 dan lulus 2006, meski seragam olahraga kami didominasi warna putih, namun tetap ada pernik birunya di setrip kaos kami. Begitu juga dengan angkatan adik tingkat kami dulu). Jadi warna biru dapat disimpulkan menjadi 2 hal yang pertama, ambalan Bimasena dan Arimbi berkedudukan di tingkat SMA. Dan yang ke 2, warna biru merupakan warna identitas SMAPA sebagai sekolah dengan jenjang SMA.
2.    Bendera Merah Putih.
Ini artinya jelas bahwa keberadaan Ambalan Bimasena dan Arimbi serta SMAPA-nya berada dalam naungan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Baik itu secara de facto ataupun de yure. Posisi bendera yang berada dibawah Tulisan “SMAN 1 Pamotan” dan terletak dibagian atas mengartikan bahwa SMA Pamotan berdiri dan berpijak di Tanah Indonesia, letak diatas mengartikan bahwa negara Indonesia haruslah selalu dijunjung tinggi.
3.    Tulisan SMA N 1 Pamotan.
Tanpa dijabarkan panjang lebar luas tinggi volume pun kita semua tahu jika tulisan ini merujuk pada tempat dimana Ambalan Bimasena dan Arimbi berkedudukan.
4.    Angka 17 07
Angka ini pun merujuk pada lokasi tempat ambalan ini berada. 17 adalah nomor Pramuka untuk Cabang Rembang (ini berarti lokasinya ada dalam wilayah kabupaten Rembang. Dalam penomoran Pramuka, lengkapnya adalah 11.17.07 dimana angka 11 menunjukkan Nomor Pramuka Kwartir Daerah Jawa Tengah, 17 menunjukkan Kwartir Cabang Rembang dan 07 Menunjukkan Kwartir Ranting Pamotan)
5.    2 Lambang Pramuka (Cikal) yang berwarna Hijau.
Lambang 2 cikal yang berwarna hijau dapat diartikan sebagai berikut:
-      Arti pertama, Kita masih hijau baik itu dalam hidup ataupun dalam ilmu pengetahuan Kepramukaan. Karena posisi kita masihlah baru dan muda. Sehingga dilambangkan dengan hijau.
-      Arti kedua warna hijau adalah perwakilan dari alam / nature. Jadi bisa dikatakan bahwa Pramuka SMAPA adalah gerakan Pramuka yang beorientasi pada Alam.
-      Dua cikal menandakan bahwa setiap sesuatu pasti memiliki pasangan. Seperti baik dengan buruk, yin dan yang, siang dan malam, kiri dan kanan. Namun pada lambang ini, bisa pula dikatakan ini adalah perlambangan dari laki-laki dan perempuan, atau bisa pula ini berarti keseimbangan pada segala sesuatu yang kita lakukan.
6.    Gunungan Yang Berwarna Putih.
Dalam pewayangan, gunungan melambangkan hutan belantara, salah satu tempat dimana manusia bisa belajar dari alam. Gunungan juga mengartikan kekokohan, tekad yang kuat, dan bisa juga berarti pengayom atau tempat berlindung. Warna dasar putih mewakili jiwa suci-bersih yang melandasi pramuka SMAPA untuk belajar dari alam, mengayomi dan juga melindungi sesama tentunya.
7.    Kalimat “Krida Tyasing Hagni”
Kalimat ini selalu aku ingat karena setiap hari jum’at dan sabtu selalu nempel di lengan kiri baju pramuka-ku dulu. Krida Tyasing Hagni. Secara epistimologi, kalimat dalam bahasa sansekerta ini (lebih jelasnya sih tanya sama Bapak Wijoyo Hadi. Bapak guru sejarahku dulu. Apakah ini bahasa sansekerta asli ataukah sudah masuk dalam bahasa jawi yang diserap dari bahasa Sansekerta). Kalimat ini jika dianalisis dapat dipecah menjadi 3 kata. Yakni “Krida” yang berarti Tindakan/Perbuatan/Amalan. Tyasing yang berarti Hati/Laksana/Seperti/bisa juga berjiwa, dan Hagni yang berarti Api. Jadi secara bahasa, dapat diartikan sebagai perbuatan yang dijiwai api, perbuatan laksana api, perbuatan seperti api, perbuatan berhati-kan api. (Untuk jelas dan pastinya mungkin bapak ibu Guru SMAPA berkenan untuk memberikan koreksi). Mengapa api (hagni)? Tentu kita tahu jika sifat api adalah membakar, berkobar. Ini adalah lambang semangat. Api adalah lambang kobaran semangat. Jadi, diharapkan semua perbuatan yang kita lakukan layaknya api yang selalu berkobar dan penuh dengan semangat.
8.    “Bimasena” / “Arimbi”
Ini adalah nama ambalan kebangganku, dan kebanggaan semua yang pernah bersekolah di SMAN 1 Pamotan. Namanya diambil dari tokoh pewayangan, Bimasena (Werkudara) dan istrinya Arimbi. Seperti yang kita tahu, Bimasena atau Werkudara merupakan seorang ksatria dan termasuk keluarga Pandawa dan terlahir sebagi Putera ke 2. Sosoknya tinggi besar, kuat dan dapat diandalkan ketika ada marabahaya. Mungkin itulah yang membuat para pendahulu kita memberikan nama Bimasena pada badge Pramuka kita. Sedangkan Arimbi adalah istri dari Bimasena yang berwujud asli seorang Rakshasi, namun menjelma menjadi seorang wanita yang tangguh, kuat dan bijaksana. (lengkapnya dapat dicari tahu sendiri ya). Dari pernikahan mereka, lahirlah Gatotkaca nantinya. (akan lebih baik lagi jika Bapak Ibu guru berkenan untuk menceritakan mengapa 2 tokoh ini yang diangkat menjadi nama ambalan kita sehingga kita tahu sejarah aslinya dari sumbernya secara langsung)
9.    Dasar Warna Cokelat Pada Kalimat Krida Tyasing Hagni dan Bimasena/Arimbi.
Ada 2 hal yang dapat kita gali informasinya dari warna cokelat ini. Yang pertama tentu saja warna itu adalah warnanya pramuka (ya iyalaaahhhh... emang pernah tahu pramuka Indonesia warnanya ijo-ijo kayak lontong gitu?) dan yang ke 2, pemilihan warna cokelat untuk disematkan di badge Bimasena-Arimbi mempunyai makna filosofis untuk kemakmuran. Baik itu kemakmuran Pramukanya, kemakmuran sekolahnya, atau kemakmuran mereka yang bernaung dibawah Ambalannya. Bukankah kita semuanya tahu jika warna kuning adalah warna yang melambangkan kemakmuran? Bisa jadi itu adalah doa dari gerakan pramuka SMAPA khususnya... Semoga....
Yuhhh... itulah sekilas tentang lambang gerakan pramuka di SMAPA. Sepertinya lama sekali aku tak pernah merasakan hawa pramuka sepertimana yang aku rasakan dulu ketika masih SMA. Rindu? Jelas rindu. Tapi apalah daya.. tangan tak sampai untuk menjangkau SMAPA. (gile aja, Sedan-Pamotan 10 Kilo mbloo... ya gak bakalan sampai lah itu tangan....)
          Semoga dengan postingan kali ini, dapat membantu teman-teman dan juga siapapun yang ingin tahu tentang makna dibalik ambalan SMAPA, dan juga pastinya, jika ada kesalahan yang tertulis disini, dengan segala hormat mengharapkan pembenahan untuk semakin menyempurnakan postingan ini..

          Terima kasiiiii.... byebyeeeee...

Wednesday, 29 June 2016

Hal-Hal yang Mungkin Membuat Kita Merindukan SMAN 1 Pamotan 10 Tahun Lalu...





............. “Setahun, 5 tahun, atau bahkan 10 tahun setelah ini, aku ingin tahu bagaimana perasaanmu mengingat hari ini?”
“Hmmm... aku tak yakin akan hal itu...”
“Aaaahhh.... sepertinya itu menyedihkan. Apakah kita nanti akan bisa merasakan seperti yang kita rasakan sekarang? Atau jika semuanya sibuk saat itu, bisa jadi ini akan berubah menjadi... sedikit menyedihkan..”
“Aku tak akan lupa, sungguh!”
“Ah sudahlah... Bukankah kita juga harus mengucapkan perpisahan? “
“Pada siapa?”
“Sekolah ini. Mau ikut?”
Terdiam..
“Baiklah, sampai nanti... “
(Cuplikan Dialog Pada Sakura No Hanabira tachi)

Ah, tak terasa tahun ini adalah tahun ke 10 aku lulus dari sekolah itu.. iyaaaa, sekolah itu, SMA Negeri 1 Pamotan. Memang bukan sebuah sekolah yang terletak di kota besar, namun nama besarnya tak kalah dengan sekolah menengah atas yang ada di pusat kota di kabupaten ini. Waktu yang tak terasa begitu cepat merambat melahap setiap rentangan kejadian yang terangkai dalam aliran tahun.
 Mungkin kita sudah tak merasakan lagi ketika harus berjuang susah payah melawan waktu untuk tiba di sekolah secara tepat waktu. Dan mungkin juga banyak diantara kita yang lupa, kapan terakhir kali kita melihat teman-teman kita, sahabat-sahabat kita, mengenakan seragam yang sama dengan yang kita kenakan, yakni putih dan abu-abu, berdiri dibawah sinaran cahaya matahari yang sama di area sekolah kita dulu. Dan mungkin juga banyak diantara kita yang telah lupa, kapan terakhir kali kita diajar oleh bapak ibu guru kita, didalam ruang kelas, dimana cahaya hangat sinar matahari menerobos disela tirai jendela yang terlihat seolah bercahaya menandai semangat kita yang... ah, entahlah mungkin juga telah kita lupakan.
          Ketika memandang keluar kelas pun kita akan disuguhi dengan keberadaan teman-teman berbeda kelas yang tampak semakin dewasa meski masih berbalut seragam yang sama dengan yang kita kenakan. Masing-masing dari kita saat itu pastilah belum tahu, akan menjadi apa kelak. Dan andai saja kita tahu betapa berharganya waktu-waktu terakhir kita di SMA Pamotan saat itu, maka pasti akan kita isi dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada apa yang telah kita lakukan dulu. Ah, pastilah semuanya telah terlupa dengan semua ini...
          Bahkan ada saatnya kita akan merindukan waktu-waktu dimana kita berbeda pemikiran, berbeda tujuan atau bahkan beradu fisik karena sesuatu hal yang tidak penting namun kita anggap sebagai sesuatu yang prinsipal pada waktu itu. Sesuatu yang konyol memang, yang mencoreng nilai-nilai kesiswaan kita, namun bisa jadi merupakan suatu kebanggaan saat itu karena merasa benar dalam mempertahankan sesuatu yang kita yakini. Hari-hari yang sulit dengan bejubelnya pelajaran pun entah kenapa kita rindukan. Sebuah perasaan yang aneh. Iya, tepat 10 tahun yang lalu.
IPA 10 Tahun yang lalu...
          Meski demikian, terkadang masih saja terasa saat-saat seperti waktu mengenakan seragam SMA. Baik itu putih abu-abu, ataupun Pramuka dengan badge Bimasena dan Arimbi-nya yang selalu kita banggakan. Mungkin ada sedikit rasa tak percaya ketika kita menghitung bahwa ternyata kita telah mengenakannya selama 3 tahun. Bahkan mungkin diantara kita mempunyai fikiran, Sepertinya baru saja kita memijakkan kaki untuk mendaftar di SMAN 1 Pamotan, dan menggantikan seragam biru putih SMP kita dengan seragam putih abu-abu dengan badge identitas sekolah kita yang baru, namun tahu-tahu kita sudah harus mengenakan seragam untuk saat-saat terakhir kita di lingkungan SMA ini..
          10 tahun bukanlah sebuah rentang waktu yang singkat. Ada banyak perubahan yang bisa saja terjadi dalam rentang waktu itu. Seperti yang terjadi pada SMA kita tercinta dulu. Tentulah akan berbeda dengan keadannya saat ini. Kita mungkin sudah tak akan mendapati suasana yang dulu kita lalui ketika menghabiskan masa belajar 3 tahun disekolah kita pada saat ini. Tapi pasti kenangan yang telah kita alami, tak akan pernah bisa hilang. Baik itu kenangan suka ataupun kenangan duka yang bisa saja berganti setiap waktu tanpa bisa kita atur atau kehendaki. 10 tahun tentulah cukup untuk sebuah perubahan besar. Dan kita harus sadar, saat ini tak bisa kita sama ratakan dengan 10 tahun yang lalu, di zaman kita masih mengenyam bangku sekolah disini. Gedung yang megah kini, tentu tak bisa dibandingkan dengan gedung sederhana yang kita gunakan dahulu. Namun sekali lagi, kenangan tentang sekolah ini tak akan pernah bisa hilang meski perubahan selalu menggerus segala objek yang menorehkan kenangan pada memori terdalam kita.
          Ada banyak hal yang membuat kita tak mungkin bisa lupa dengan SMAN 1 Pamotan 10 tahun yang lalu. Dan pastilah para siswa saat ini tak akan bisa menemui sebagian atau bahkan mungkin keseluruhan keseruan kita ketika menjadi siswa disana. Bukan bermaksud merendahkan atau apapun, tapi inilah beberapa hal yang tak bisa ditemukan siswa SMAN 1 Pamotan saat ini, dn hanya bisa kita temui di zaman kita dahulu. Sebenarnya ada banyak hal yang bisa mengingatkan kita pada SMAN 1 Pamotan. Tentunya yang kita bahas disini selain bapak dan ibu guru serta tenaga pengajar yang telah memberikan ilmunya pada kita.. karena jelas, merekalah unsur utama yang menarik kerinduan kita pada sekolah ini. Ah, membahasnya membuatku menjadi semakin rindu dengan masa-masa SMA dulu..
1.     Bangunan Yang Sederhana
Kita tak mungkin membandingkan Bangunan yang ada di SMA Pamotan saat ini dengan 10 tahun yang lalu. Tentu akan kita dapati perbedaan yang sangat jauh. 10 tahun yang lalu, nafas dari operasional sekolah masih bergantung pada iuran siswa. Berbeda dengan sekarang yang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hal ini tentu berimbas pada pembangunan di sekolah. 10 tahun lalu, Sekolah pasti akan berfikir berkali-kali jika akan melakukan pembangunan sarana penunjang pendidikan karena pasti akan memberati siswa. Sekarang? Tentu pembangunan bisa sesuai dengan perencanaan. Maka tak heran, pada 10 tahun yang lalu, pertama kali kita masuk ke SMA Pamotan, kita akan disambut dengan pintu gerbang yang sudah tua dan berkarat (mungkin setua Napoleon kali. hihihi). Selain itu, kita juga akan menemukan pula papan identitas sekolah yang seadanya, dan yang menjadi trade mark sekolah ini adalah pagarnya! Saat itu tentu kita masih ingat jika sekolah kita belum berpagar keliling. Tak cukup sampai disitu, jika kita melewati SMA Pamotan dari arah Lasem, maka kita akan melihat tulisan “Awas Bahaya Mau Roboh!!” yang menjadi trade mark sekolah kita. Coba bayangkan dengan keadaan sekarang. Pasti akan berbeda kan? Gedung dan bangunan megah mendominasi sekolah kita kini, dan tentunya trade mark sekolah kita tak dapat ditemui oleh siswa saat ini kan?
dulu... ini adalah ruang kelas penulis saat kelas 1..
2.    Hukuman Bagi Yang Terlambat mengikuti Upacara atau tidak lengkap.
Hukuman bagi yang terlambat upacara atau atribut tidak lengkap bermacam-macam. Tapi yang paling sering adalah, kita dibuatkan barisan pada sisi lapangan paling barat. Tidak sampai disitu, barisan sakit hati, eh, barisan telat upacara ini menghadap ke timur, langsung menghadap matahari. Kebayang kan gimana rasanya upacara dengan menghadap ke matahari? Penulis sih sering! huhuhuhuhuhu.
Siapa yang sering telat upacara? hayooo....
3.    Hukuman Bagi Yang Datang Terlambat.
Mungkin ini adalah salah satu hukuman yang paling unik yang pernah diterima anak-anak SMA Pamotan 10 tahun yang lalu. Apa itu? Bagi siswa yang telat, hukuman yang populer bukanlah hukuman fisik. Tapi satu diantara 2 hal ini. Yang pertama adalah membawa pupuk kompos (bahasa kasarnya adalah kotoran ternak) atau membuat bumbung (pagar kecil untuk melindungi tanaman). Maklum lah, saat itu SMA kita kan sedang gencar-gencarnya mengadakan penghijauan (patut dicontoh sekolah lain ini). Terkadang, bagi siswa yang merasa keberatan dengan membawa bumbung, mereka meminta Pak Kirno (penjaga sekolah) untuk membuatkannya. Tentu dengan kompensasi yang setara. Bagaimana dengan penulis? Tenang, sudah langganan! (langganan dapat hukuman ini. hakhakhak). Bagaimana dengan saat ini?
4.    Hukuman dari Bapak Ibu Guru.
Ini mungkin sudah sangat jarang kita temui saat ini. Karena alasan HAM atau apalah itu, yang semakin mempreteli kredibilitas pendidikan kita. 10 tahun lalu, hukuman fisik merupakan hal yang biasa bagi pelanggar peraturan sekolah. Bahkan sebuah hukuman dengan cara berjalan jongkok sambil memanggul kursi masing-masing merupakan suatu hal yang biasa bagi mereka yang lupa mengerjakan PR. Bagaimana jika diterapkan sekarang? Tentu pemberian hukuman pada siswa akan menjadi masalah yang berlarut-larut. Tapi dari sanalah kita bisa menjadi lebih disiplin dan patuh terhadap peraturan yang ditetapkan untuk kemudian berusaha menjadi lebih baik lagi. Bahkan ada kalanya hukuman-hukuman dari Bapak/Ibu Guru membuat kita menjadi rindu dengan saat-saat sekolah kita dulu. Tenang, penulis tidak pernah dapat hukuman kayak gini kok.. *bangga dikit.
5.    Tanda bel yang khas.
Dari dulu, dari jaman pertama bersekolah di SMAN 1 Pamotan, salah satu yang membuat kangen adalah bunyi bel sekolah yang antik dan khas. Ketika sekolah lain sudah berlomba untuk memodernisasi tanda bel mereka, SMA Pamotan Bergeming dengan bel besi yang dipukul oleh, ehem, seseorang yang khas pula. Pak Lan, begitu biasa kami memanggilnya. Sosok yang dengan setia memukul Bel besi ketika waktunya tiba. Sekarang? Semoga saja masih digunakan...
6.    Cara Guru Mengidentifikasi Siswa “penyelundup”.
Hal lain yang tidak bisa dilupakan oleh siswa SMAN 1 Pamotan 10 tahun yang lalu adalah cara guru engidentifikasi siswa penyelundup. Maksud penyelundup disini adalah siswa yang telat tapi bisa masuk ke kelasnya melalui jalan samping. Kan pada waktu itu belum ada pagar keliling. Jadi bisa saja kan para siswa yang terlambat lewat jalan samping sekolah untuk masuk ke kelasnya? Namun, tak kurang akal, guru SMAN 1 Pamotan pun bisa membedakan siswa yang telat dengan yang tepat waktu. Caranya? Mudah. Cukup dilihat sepatunya! Jika sepatunya kotor, atau terkena tanah basah, identifikasi awal bisa jadi dia telat! Karna, kiri kanan sekolah waktu itu masih berupa persawahan, sehingga tanahnya basah dan menempel di sepatu. Sebuah cara yang sederhana namun sangat efektif. Bagaimana dengan sekarang? Sepertinya.... ah...
Ini Bukan Penyelundup.. tapi ini wajah Siswa SMAPA 10 Tahun yang lalu... :D
7.    Pura-pura dari Kantin ketika Telat.
Alternatif lain bagi siswa yang terlambat untuk menghindari hukuman adalah dengan berpura-pura selesai sarapan dari kantin. Setidaknya hukuman mereka lebih ringan jika terdeteksi telat secara de facto. (halah!). bagaimana bisa? Iyalah bisa. Dari arah timur kan dulu ada jalan pintas (aslinya jalan persawahan). Karena sekolah belum memiliki pagar keliling, maka jalan itu bisa langsung mengarah ke kantin. Untuk menghindari kecurigaan guru, tasnya mereka titipkan dikantin dan diambil ketika istirahat tiba. Berhasilkah cara ini? Ketika musim kemarau tiba, kemungkinan berhasil lebih besar daripada musim penghujan. Karena tanah sawahnya kering... tapi, jangan ditiru! (maaf ya bapak ibu guru.. penulis ndak ikutan kok..). sekarang? Dengan pagar keliling yang rapat, tentunya hal ini akan sulit dilakukan oleh siswa sekarang dan hanya bisa dilakukan oleh siswa SMAN 1 Pamotan 10 tahun yang lalu...
8.    Tempat “Persembunyian” Alternatif.
Maksud tempat persembunyian disini adalah rerimbunan pohon bambu yang terletak dibelakang areal sekolah. Disini, beberapa siswa memanfaatkannya ketika membutuhkan ketenangan saat hendak ada ulangan. Bukan mencari wahyu, ilham, atau pangsit (halahhhh!! kalo pangsit mah di Bang Niam depan Masjid Pamotan ituuuhhh), tapi untuk belajar bersama dan mempersiapkan bahan ulangan.. sekarang? Sepertinya sudah ndak bisa lagi deh. Karena sudah tertutup pagar..
9.    “Hijrah” saat Berolahraga.
Berbeda dengan saat ini yang fasilitas olahraganya terbilang lengkap, 10 tahun yang lalu tidaklah sama. Ketika pelajaran olahraga dan kita hendak memainkan sepakbola, maka satu-satunya jalan adalah kita harus hijrah ke arah barat areal sekolah ke lapangan milik desa. Bukan hanya itu, meski sudah hijrah, dalam bermain sepakbola kita juga masih harus bersusah payah untuk bisa bermain maksimal. Lapangan desa yang kami pakai tidaklah rata. Bahkan kemiringannya sangat jelas terlihat. Jadi kita harus pandai-pandai mengolah bola plus menjaga keseimbangan saat berhijrah untuk bermain sepakbola disana.. sekarang? Bermain sepakbola cukup di areal sekolah. Karena sekolah telah menyediakan lapangan sepakbola yang lumayan bagus...
10. Class Meeting yang hampir selalu “Meminta Korban”
Korban disini berarti anak-anak atau siswa yang terluka atau cedera ketika mengikuti class meeting. Wajar saja, 10 tahun yang lalu, arena class meeting masih berupa hamparan tanah yang belum ada paving atau lapisan penghalus lainnya. Jadi ketika class meeting dilaksanakan, maka semangat juang yang membara akan diiringi dengan beberapa luka lecet bagi para siswa yang tanpa sengaja terjatuh karena saling beradu semangat. Iyap, luka kecil bukanlah sesuatu yang ditakutkan anak-anak SMA Pamotan 10 tahun yang lalu. Karena memang, ketika kita terjatuh, tanah berpasir dan bahkan berkerikil akan selalu setia menanti tubuh kita yang terhuyung ke tanah. Meski begitu, momen-momen seperti ini selalu dinantikan, dan.... 10 tahun kemudian entah mengapa membuat rasa rindu di bongkahan hati kecilku... (rindu? Memangnya penulis ikutan class meeting? Keren doonngg!!... sekedar bocoran ya, tiap kali class meeting dilaksanakan, penulis selalu setia mengikutinya. Semua kegiatan penulis ikuti. Terutama olahraga. Beeuuuhhh.... sudah langganan kalo penulis dulu menjadi pemain cadangannya cadangan.. )
11.  Janjian Dengan Surat Atau Perantara.
Ehem, ehem.... siapa ini yang dulu melakukan hal ini? Yang pernah melakukan hal ini pasti senyum-senyum sendiri. Coba kita kilas balik lagi. 10 tahun yang lalu, HP belumlah sepopuler sekarang. Jadi untuk membuat janji dengan seseorang yang berbeda kelas, bisa dengan mengirimkan surat melalui teman yang lain. Uhhh, ribet ya? Memang ribet untuk ukuran sekarang. Tapi, 10 tahun yang lalu, hal seperti itu sih biasa. Ini berlaku juga untuk siswa yang ingin nembak target operasinya tapi tidak punya nyali untuk bertemu secara langsung. Lalu dimana gregetnya? Ada kok.. gregetnya adalah, masa-masa ketika menunggu balasan surat “Tembakan” yang kita kirim. Tentu akan sangat bahagia jika dibalas sesuai dengan yang diinginkan dan akan sedih jika dibalas dengan penolakan. Namun yang lebih tragis lagi adalah.... ketika sudah mengirim surat “tembakan”.... dan target operasinya tidak memberikan jawaban sama sekali. Tidak mengatakan “tidak”, dan tidak pula mengatakan “iya”. Bagaikan menanti sesuatu yang belum jelas kehadirannya... *penulis pernah punya pengalaman tentang hal ini. Membuat surat tembakan dua kali, tapi semuanya bukan untuk penulis sendiri. Satu untuk teman sekelas berinisial “L” (sumpah ini bukan L yang menjadi bintang utama The Death Note), dan yang kedua untuk teman dengan inisial “A” (aslinya sih bernama Agus). Hasilnya? Alhamdulillah, dua-duanya ditolak! Bahkan sang pujaan hati si “L” malah pindah sekolah beberapa waktu setelah mendapatkan surat tembakan itu.. jangan-jangan....
12. Penjelajahan Pramuka yang Selalu Dirindukan.
Ini nih yang menjadi salah satu poin penting mengapa sekolah di SMAN 1 Pamotan pada 10 tahun yang lalu sangat dirindukan. Dulu, kegiatan pramuka yang dilaksanakan di sekolah selalu diselingi dengan penjelajahan alam diluar kompleks sekolah. Tak tanggung-tanggung, jarak yang ditempuh bisa mencapai puluhan kilometer dan semuanya dilangsungkan diluar sekolah. Bahkan Kadang area penjelajahan berjarak beberapa kilometer dari sekolah. Meskipun capek, suasana perkemahan saat itu memang benar-benar mendidik siswa untuk lebih dekat dengan alam. Bukan hanya slogan, tapi kami benar-benar diperlihatkan alam yang nyata, didekatkan dengan alam, dan yang terpenting diajari untuk menghargai alam. Mungkin yang terjauh yang pernah penulis tempuh adalah ketika harus melakukan penjelajah di Gunung Mbugel dengan rute ke puncak. Sampai daerah ceriwik, dan memutar menuruni gunung lewat timur SMPN 1 Pancur untuk kemudian kembali ke areal perkemahan di SMAN 1 Pamotan. Semuanya dengan berjalan kaki lho... hemm... jadi ingin menjelajah gunung lagi.. lalu bagaimana dengan sekarang? Yaahhh... penulis gakk tau... yang pasti pengalaman menjelajah alam itu semakin membuat rindu pada SMAN 1 Pamotan 10 Tahun yang lalu..
Ini Bukan Pramuka, ini sekedar iklan...
13. Kakak Pembina Pramuka yang “Mengartiskan Diri”
Sudah tak bisa dipungkiri jika masa SMA adalah masa pencarian jatidiri yang sebenarnya tak pernah hilang sama sekali (lalu kenapa dicariiiiiiiii????). maksud dari mengartiskan diri disini tak lepas dari salah satu kegiatan perkemahan yang mengharuskan adik-adik pembina mengirim surat kepada kakak pembina yang dikaguminya. Surat itu bisa surat kekaguman biasa atau bahkan malah surat cinta yang menyatakan perasaan... tentu saja perasaan cintanya. Dan kesempatan untuk kakak pembina menjadi artis dadakan sangat terbuka lebar. Karena mau tak mau (malah bahkan cenderung memaksa kalau tak mau dikatakan mengancam. Xixixixi) adik tingkat harus mengirimkan surat kepada kakak pembina pramuka. Bisa dibayangkan kan bagaimana malunya si adik tingkat ketika karus menulis surat kepada kakak pembinanya.. tapi disanalah letak keseruannya. Kita dituntut untuk menjadi seseorang yang berani menyatakan apa yang ingin dinyatakan, mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan. Mungkin cara ini bisa dipakai oleh para Jones (Jomblo Ngenes) yang sudah abadi dengan kejombloannya.. xixixixi... *gara-gara acara beginian, penulis malah mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan.. saking ngartisnya, sampai ada adik tingkat yang ngirim surat yang ternyata dia...... cowok!
14. Berebut bus angkutan ketika pulang sekolah
10 tahun yang lalu, mayoritas siswa di SMAN 1 Pamotan masih menggunakan bus sebagai sarana untuk berangkat dan pulang sekolah. Tak seperti saat ini yang kebanyakan menggunakan motor sebagai kendaraan untuk ke sekolah, dulu menggunakan bus merupakan hal yang paling banyak dilakukan oleh siswa baik itu yang jauh ataupun dekat jarak rumahnya. Nah, hal yang membuat rindu adalah, dimana saat bel pulang sekolah berdentang. Ketika semua siswa berhamburan keluar kelas dan menunggu kedatangan bus di pinggir jalan secara bersama-sama, dan berharap bus yang datang nantinya masih kosong. (kadang para penunggu bus kecewa juga. Karena ternyata bus yang datang sudah penuh dengan siswa dari sekolah lain). Ketika melihat ada bus datang, maka siswa-siswi tersebut langsung berhamburan menyambut dan berdesakan untuk bisa naik agar dapat pulang sekolah dengan segera. Bahkan demi bisa mendapatkan tempat duduk atau mendapatkan bus lebih awal dari para “penunggu bus” yang lain, tak jarang para siswa nekad untuk mencegat bus di barat sekolah, dengan berjalan jauuuuhhh ke barat. *contohnya penulis, demi mendapatkan bus dengan segera, tak jarang penulis dan kawan-kawan rela berjalan jauh ke barat. Dan... yang paling sering dilakukan penulis beserta kawan-kawan adalah... mencegat bus di pos ronda di pertigaan desa Gayam.. entah berapa jauhnya itu... hihihi
Wajah-wajah 10 Tahun yang lalu...
15. Menunggu bus dibawah pohon asam di pinggir jalan.
Satu hal yang membuat kangen dengan keadaan SMA Pamotan 10 Tahun yang lalu adalah suasana bubaran sekolah. Ketika pulang sekolah, akan terlihat siswa-siswi SMAPA berjajar di pinggir jalan dan bergerombol dibawah pohon asam yang tumbuh subur di sepanjang jalan raya depan sekolah. Saat ini mungkin masih terlihat sama. Tapi jika kita bandingkan dengan 10 tahun lalu, ketika halte bus belum ada dan kebanyakan siswa masih menggunakan bus (bukan motor seperti saat ini) pastilah akan ada semacam rasa yang hilang dan membuat rindu. entah rasa apa itu yang jelas, bagi sebagian siswa, menikmati saat-saat menunggu bus dibawah pohon asam depan sekolah memberikan kesan tersendiri yang mungkin akan membuat sebuah perasaan ingin mengulang lagi masa-masa itu.
16. Petugas Perpustakaan Yang Pendiam dan ditakuti.
Bagi sebagian siswa yang doyan pergi ke perpustakaan sekolah, tentu tak asing lagi dengan sang penjaga perpustakaan yang bernama mbak Atif. Bagi yang terbiasa ke perpustakaan juga, pasti akan tahu jika sebenarnya mbak Atif ini adalah seorang yang enak untuk diajak ngobrol, sharing, bertanya atau bahkan curhat. Namun, sayangnya karena budaya anak-anak SMAPA 10 tahun lalu tidak familiar dengan yang namanya baca membaca atau perpustakaan, maka sosok mbak Atif lebih sering terdefinisikan sebagai sosok yang pendiam, galak, suka marah, dan... misterius!. Sebenarnya, jika kalian tahu ya vroohh, jika kalian sering berkunjung ke perpustakaan dan berinteraksi dengan beliau, kesan negatif yang menempel pada mbak Atif akan hilang dan berganti dengan sosok yang ramah, charming, suka becanda dan tentunya.. suka nunjukin buku yang kalian inginkan! Tapi apapun itu, mungkin salah satu yang membuat SMAPA 10 tahun yang lalu tercetak kuat di ingatan adalah sosok yang menjaga perpustakaan itu.
17. Menghitung Gerimis dibawah Pohon Asam Depan Sekolah.
Kalo ini sih bukan pendapat umum. Ini sih pendapat penulis sendiri suka main gerimis-gerimisan dan menikmati gerimis dibawah pohon asam depan SMAPA. Yah, dasarnya memang suka dengan gerimis dari kecil. Jadi terbawa sampai besar, sampai SMA juga. Sangat tidak penting kan untuk ditulis? Ya iyalahhh... tapi beneran, coba deh, sekali waktu nikmati gerimis yang merinai dengan penuh penghayatan. Perasaan pembaca akan menjadi lebih tenang dan akan lebih terimajinasi dengan sesuatu yang mungkin tak pernaah pembaca bayangkan.. lalu kenapa dikasih judul menghitung gerimis dibawah pohon asam depan sekolah? Biar agak keren aja vroohh... tavvuran nyookkkk! Daripada banyak tanya! Aaahh, penulisnya ajah yang gak jelas! *komentar para pembaca.
Nah, mungkin itulah hal-hal yang membuat kita kangen dengan masa-masa sekolah kita dulu di SMAN 1 Pamotan.. mungkin ada yang sama, mungkin juga tidak. Lalu, apa yang membuatmu kangen dengan masa sekolah di SMAPA?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...