Showing posts with label SMAku. Show all posts
Showing posts with label SMAku. Show all posts

Tuesday, 1 November 2016

Arti Lambang Gerakan Pramuka SMAN 1 Pamotan (Ambalan Bima Sena dan Arimbi)

Badge Bima Sena of SMAPA

Haaahh.... lama gak bisa update blog ini gara-gara sekarang kesibukan sebagai tukang wira-wiri semakin bertambah. Sampai lama gak bisa mampir ke blog ini.. aslinya sih ya, jarang ngeblog gara-gara gak ada bahan buat nulis. Jadi biar agak keren ya pakai alasan jadi orang sibuk. Gitu kan kelihatannya lebih gimana gitu di mata masyarakat umum... waaaaauuuuu... *suara jangkrik mulai membuat bulu ketek berdiri.
Begini asal muasal sampai aku harus turun tangan menulis blog ini lagi. Kemarin tuh ya, kemarinnya kemarin, tiba-tiba ada yang BBM aku (eiiitssss... jangan underestimate dulu. Begini-begini sekarang aku udah punya BB lho. Gak kayak dulu. Sekarang aku mah orangnya keren. Pengen bukti? Noohh, istri dan anakku aja keren. Pasti aku juga keren dong... *penonton protes). sampai dimana tadi? Oh ya sampai asal muasal cerita kenapa aku nulis postingan ini. Begini.. ketika itu, aku di BBM oleh salah satu guru daru SMAN 1 Pamotan (maaph pemirsah, aku gak akan memberitahu kalian jika yang BBM + miskol 1 x dengan durasi 3 detik itu namanya Pak Agus Isnanto. Biar ini tetap menjadi rahasia kami berdua saja. Agar semua gak tahu jika yang menghubungiku adalah pak Agus Isnanto.)
Beliau waktu itu bertanya tentang arti dari lambang Ambalan SMA kita dulu (mungkin karena saat itu beliau sedang mengisi acara kepramukaan di SMAN 1 Pamotan dan lupa dengan arti dari lambang ambalan kita dulu. Lalu kenapa tanyanya ke aku? Dulu aku juga sekolah disana. Jangan salah, jelek-jelek gini juga aku sekolah SMA Tauk.. jangan suka menghina gitu dongg..). Sreeeepppp.... aku berfikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan beliau (yah kira-kira seminggu lah aku berfikirnya... *bisa kelar itu acara Pramuka kalau aku berpikirnya seminggu. Ngaco amat...). karena mengalami pikiran buntu dan tidak mampu menjangkau kenangan yang terkubur beberapa ratus tahun yang lalu akhirnya aku minta untuk dikirimkan gambar ambalan Pramuka SMAN 1 Pamotan. (aku ingatnya saat itu hanya nama Ambalan yaitu Arimbi dan Bima Sena, serta kata-kata “Krida Tyasing Hagni” yang terukir di Badge ambalan kita dulu).
“Pak Dhe... aku terangke Badge Bimasena”. Kira-kira begitulah permintaan dari Pak Agus Isnanto waktu itu. Haiisshh... sebenarnya sulit saat itu untuk menjelaskan. Lupa-lupa ingat dan juga seingatku dulu kami gak pernah diberikan penjelasan secara ekslusif mengenai hal ini. Namun jika ada gambarnya pasti bisa teringat kembali (mudah-mudahan). Ketika aku coba searching ke simbah dengan keyword “Lambang Bimasesa” atau “Lambang Arimbi” atau pencarian dengan keyword sejenis yang nyerempet-nyerempet itu, ternyata juga simbah belum ada yang unggah dalam bentuk jpeg atau turunan vektor. Yah akhirnya mau ndak mau ya minta dikirimin Pak Agus.. dan Alhamdulillah kemarin gambar vektor sederhana dari Ambalan SMAN 1 Pamotan sudah jadi dan bisa dijadikan sebagai gambar di postingan kali ini. (mohon jangan dihina apalagi dipuji. Gambar yang aku buat masih dalam tahap beta, jadi masih butuh banyak penyempurnaan disana-sini)
Kembali lagi ke topik. Setelah melihat gambar badge Arimbi kurang cahaya yang dikirimkan Pak Agus (Mungkin karena memotretnya tidak dengan menggunakan cinta kasih dan kesetiaan.. Wtf, Masa bodo ah dia poto badge nya siapa. Xaxaxaxa) akhirnya ingatanku kembali ke zaman ketika masih mengenakan seragam pramuka dulu. Iya, dulu aku juga aktif di Pramuka. Kalo ndak percaya sini deh aku tunjukin kalo aku juga masih bisa melakukan tepuk pramuka... tepuk pramuuuka! Prok prok prok! Prok prok prok! Prok prok prok prok prok prok prok!! (hormat dan salim untuk pak Didik Pudianto yang menjadi mentor Pramuka kami ketika KML 2013 dulu). Sekilas setelah melihat badge Ambalan SMAPA, akhirnya bisa juga mengingat-ingat makna apa yang terkanding didalamnya.. mari kita jabarkan bersama-sama (Untuk pihak-pihak terkait, kakak senior, adek junior Bapak Ibu Guru SMAPA, mohon diberi masukan dan dibenarkan jika apa yang tertulis disini merupakan suatu kekeliruan. Terima kasih sebelumnya.. _/\_ )
          Seperti yang kita tahu, dalam lambang gerakan pramuka SMAPA (badge Bimasena ataupun Arimbi) terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
1.     Warna Dasar Biru.
Lambang dasar dari badge ambalan SMAPA adalah biru (ini biru atau abu-abu siiihh? Kok warnanya rancu gini?). Ini menandakan bahwa ambalan ini berada di tingkatan SMA yang identik dengan warna biru atau abu-abu. Makna lain adalah warna identitas SMA Pamotan (meski bangunannya kebanyakan berwarna krem, namun warna biru dahulu sering digunakan dalam berbagai seragam di SMAPA. Baik itu seragam olah raga guru, ataupun kaos olahraga yang dipakai oleh tiap angkatan di SMAPA. Contohnya, seragam olahraga kami angkatan masuk 2003 dan lulus 2006, meski seragam olahraga kami didominasi warna putih, namun tetap ada pernik birunya di setrip kaos kami. Begitu juga dengan angkatan adik tingkat kami dulu). Jadi warna biru dapat disimpulkan menjadi 2 hal yang pertama, ambalan Bimasena dan Arimbi berkedudukan di tingkat SMA. Dan yang ke 2, warna biru merupakan warna identitas SMAPA sebagai sekolah dengan jenjang SMA.
2.    Bendera Merah Putih.
Ini artinya jelas bahwa keberadaan Ambalan Bimasena dan Arimbi serta SMAPA-nya berada dalam naungan yurisdiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Baik itu secara de facto ataupun de yure. Posisi bendera yang berada dibawah Tulisan “SMAN 1 Pamotan” dan terletak dibagian atas mengartikan bahwa SMA Pamotan berdiri dan berpijak di Tanah Indonesia, letak diatas mengartikan bahwa negara Indonesia haruslah selalu dijunjung tinggi.
3.    Tulisan SMA N 1 Pamotan.
Tanpa dijabarkan panjang lebar luas tinggi volume pun kita semua tahu jika tulisan ini merujuk pada tempat dimana Ambalan Bimasena dan Arimbi berkedudukan.
4.    Angka 17 07
Angka ini pun merujuk pada lokasi tempat ambalan ini berada. 17 adalah nomor Pramuka untuk Cabang Rembang (ini berarti lokasinya ada dalam wilayah kabupaten Rembang. Dalam penomoran Pramuka, lengkapnya adalah 11.17.07 dimana angka 11 menunjukkan Nomor Pramuka Kwartir Daerah Jawa Tengah, 17 menunjukkan Kwartir Cabang Rembang dan 07 Menunjukkan Kwartir Ranting Pamotan)
5.    2 Lambang Pramuka (Cikal) yang berwarna Hijau.
Lambang 2 cikal yang berwarna hijau dapat diartikan sebagai berikut:
-      Arti pertama, Kita masih hijau baik itu dalam hidup ataupun dalam ilmu pengetahuan Kepramukaan. Karena posisi kita masihlah baru dan muda. Sehingga dilambangkan dengan hijau.
-      Arti kedua warna hijau adalah perwakilan dari alam / nature. Jadi bisa dikatakan bahwa Pramuka SMAPA adalah gerakan Pramuka yang beorientasi pada Alam.
-      Dua cikal menandakan bahwa setiap sesuatu pasti memiliki pasangan. Seperti baik dengan buruk, yin dan yang, siang dan malam, kiri dan kanan. Namun pada lambang ini, bisa pula dikatakan ini adalah perlambangan dari laki-laki dan perempuan, atau bisa pula ini berarti keseimbangan pada segala sesuatu yang kita lakukan.
6.    Gunungan Yang Berwarna Putih.
Dalam pewayangan, gunungan melambangkan hutan belantara, salah satu tempat dimana manusia bisa belajar dari alam. Gunungan juga mengartikan kekokohan, tekad yang kuat, dan bisa juga berarti pengayom atau tempat berlindung. Warna dasar putih mewakili jiwa suci-bersih yang melandasi pramuka SMAPA untuk belajar dari alam, mengayomi dan juga melindungi sesama tentunya.
7.    Kalimat “Krida Tyasing Hagni”
Kalimat ini selalu aku ingat karena setiap hari jum’at dan sabtu selalu nempel di lengan kiri baju pramuka-ku dulu. Krida Tyasing Hagni. Secara epistimologi, kalimat dalam bahasa sansekerta ini (lebih jelasnya sih tanya sama Bapak Wijoyo Hadi. Bapak guru sejarahku dulu. Apakah ini bahasa sansekerta asli ataukah sudah masuk dalam bahasa jawi yang diserap dari bahasa Sansekerta). Kalimat ini jika dianalisis dapat dipecah menjadi 3 kata. Yakni “Krida” yang berarti Tindakan/Perbuatan/Amalan. Tyasing yang berarti Hati/Laksana/Seperti/bisa juga berjiwa, dan Hagni yang berarti Api. Jadi secara bahasa, dapat diartikan sebagai perbuatan yang dijiwai api, perbuatan laksana api, perbuatan seperti api, perbuatan berhati-kan api. (Untuk jelas dan pastinya mungkin bapak ibu Guru SMAPA berkenan untuk memberikan koreksi). Mengapa api (hagni)? Tentu kita tahu jika sifat api adalah membakar, berkobar. Ini adalah lambang semangat. Api adalah lambang kobaran semangat. Jadi, diharapkan semua perbuatan yang kita lakukan layaknya api yang selalu berkobar dan penuh dengan semangat.
8.    “Bimasena” / “Arimbi”
Ini adalah nama ambalan kebangganku, dan kebanggaan semua yang pernah bersekolah di SMAN 1 Pamotan. Namanya diambil dari tokoh pewayangan, Bimasena (Werkudara) dan istrinya Arimbi. Seperti yang kita tahu, Bimasena atau Werkudara merupakan seorang ksatria dan termasuk keluarga Pandawa dan terlahir sebagi Putera ke 2. Sosoknya tinggi besar, kuat dan dapat diandalkan ketika ada marabahaya. Mungkin itulah yang membuat para pendahulu kita memberikan nama Bimasena pada badge Pramuka kita. Sedangkan Arimbi adalah istri dari Bimasena yang berwujud asli seorang Rakshasi, namun menjelma menjadi seorang wanita yang tangguh, kuat dan bijaksana. (lengkapnya dapat dicari tahu sendiri ya). Dari pernikahan mereka, lahirlah Gatotkaca nantinya. (akan lebih baik lagi jika Bapak Ibu guru berkenan untuk menceritakan mengapa 2 tokoh ini yang diangkat menjadi nama ambalan kita sehingga kita tahu sejarah aslinya dari sumbernya secara langsung)
9.    Dasar Warna Cokelat Pada Kalimat Krida Tyasing Hagni dan Bimasena/Arimbi.
Ada 2 hal yang dapat kita gali informasinya dari warna cokelat ini. Yang pertama tentu saja warna itu adalah warnanya pramuka (ya iyalaaahhhh... emang pernah tahu pramuka Indonesia warnanya ijo-ijo kayak lontong gitu?) dan yang ke 2, pemilihan warna cokelat untuk disematkan di badge Bimasena-Arimbi mempunyai makna filosofis untuk kemakmuran. Baik itu kemakmuran Pramukanya, kemakmuran sekolahnya, atau kemakmuran mereka yang bernaung dibawah Ambalannya. Bukankah kita semuanya tahu jika warna kuning adalah warna yang melambangkan kemakmuran? Bisa jadi itu adalah doa dari gerakan pramuka SMAPA khususnya... Semoga....
Yuhhh... itulah sekilas tentang lambang gerakan pramuka di SMAPA. Sepertinya lama sekali aku tak pernah merasakan hawa pramuka sepertimana yang aku rasakan dulu ketika masih SMA. Rindu? Jelas rindu. Tapi apalah daya.. tangan tak sampai untuk menjangkau SMAPA. (gile aja, Sedan-Pamotan 10 Kilo mbloo... ya gak bakalan sampai lah itu tangan....)
          Semoga dengan postingan kali ini, dapat membantu teman-teman dan juga siapapun yang ingin tahu tentang makna dibalik ambalan SMAPA, dan juga pastinya, jika ada kesalahan yang tertulis disini, dengan segala hormat mengharapkan pembenahan untuk semakin menyempurnakan postingan ini..

          Terima kasiiiii.... byebyeeeee...

Wednesday, 29 June 2016

Hal-Hal yang Mungkin Membuat Kita Merindukan SMAN 1 Pamotan 10 Tahun Lalu...





............. “Setahun, 5 tahun, atau bahkan 10 tahun setelah ini, aku ingin tahu bagaimana perasaanmu mengingat hari ini?”
“Hmmm... aku tak yakin akan hal itu...”
“Aaaahhh.... sepertinya itu menyedihkan. Apakah kita nanti akan bisa merasakan seperti yang kita rasakan sekarang? Atau jika semuanya sibuk saat itu, bisa jadi ini akan berubah menjadi... sedikit menyedihkan..”
“Aku tak akan lupa, sungguh!”
“Ah sudahlah... Bukankah kita juga harus mengucapkan perpisahan? “
“Pada siapa?”
“Sekolah ini. Mau ikut?”
Terdiam..
“Baiklah, sampai nanti... “
(Cuplikan Dialog Pada Sakura No Hanabira tachi)

Ah, tak terasa tahun ini adalah tahun ke 10 aku lulus dari sekolah itu.. iyaaaa, sekolah itu, SMA Negeri 1 Pamotan. Memang bukan sebuah sekolah yang terletak di kota besar, namun nama besarnya tak kalah dengan sekolah menengah atas yang ada di pusat kota di kabupaten ini. Waktu yang tak terasa begitu cepat merambat melahap setiap rentangan kejadian yang terangkai dalam aliran tahun.
 Mungkin kita sudah tak merasakan lagi ketika harus berjuang susah payah melawan waktu untuk tiba di sekolah secara tepat waktu. Dan mungkin juga banyak diantara kita yang lupa, kapan terakhir kali kita melihat teman-teman kita, sahabat-sahabat kita, mengenakan seragam yang sama dengan yang kita kenakan, yakni putih dan abu-abu, berdiri dibawah sinaran cahaya matahari yang sama di area sekolah kita dulu. Dan mungkin juga banyak diantara kita yang telah lupa, kapan terakhir kali kita diajar oleh bapak ibu guru kita, didalam ruang kelas, dimana cahaya hangat sinar matahari menerobos disela tirai jendela yang terlihat seolah bercahaya menandai semangat kita yang... ah, entahlah mungkin juga telah kita lupakan.
          Ketika memandang keluar kelas pun kita akan disuguhi dengan keberadaan teman-teman berbeda kelas yang tampak semakin dewasa meski masih berbalut seragam yang sama dengan yang kita kenakan. Masing-masing dari kita saat itu pastilah belum tahu, akan menjadi apa kelak. Dan andai saja kita tahu betapa berharganya waktu-waktu terakhir kita di SMA Pamotan saat itu, maka pasti akan kita isi dengan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada apa yang telah kita lakukan dulu. Ah, pastilah semuanya telah terlupa dengan semua ini...
          Bahkan ada saatnya kita akan merindukan waktu-waktu dimana kita berbeda pemikiran, berbeda tujuan atau bahkan beradu fisik karena sesuatu hal yang tidak penting namun kita anggap sebagai sesuatu yang prinsipal pada waktu itu. Sesuatu yang konyol memang, yang mencoreng nilai-nilai kesiswaan kita, namun bisa jadi merupakan suatu kebanggaan saat itu karena merasa benar dalam mempertahankan sesuatu yang kita yakini. Hari-hari yang sulit dengan bejubelnya pelajaran pun entah kenapa kita rindukan. Sebuah perasaan yang aneh. Iya, tepat 10 tahun yang lalu.
IPA 10 Tahun yang lalu...
          Meski demikian, terkadang masih saja terasa saat-saat seperti waktu mengenakan seragam SMA. Baik itu putih abu-abu, ataupun Pramuka dengan badge Bimasena dan Arimbi-nya yang selalu kita banggakan. Mungkin ada sedikit rasa tak percaya ketika kita menghitung bahwa ternyata kita telah mengenakannya selama 3 tahun. Bahkan mungkin diantara kita mempunyai fikiran, Sepertinya baru saja kita memijakkan kaki untuk mendaftar di SMAN 1 Pamotan, dan menggantikan seragam biru putih SMP kita dengan seragam putih abu-abu dengan badge identitas sekolah kita yang baru, namun tahu-tahu kita sudah harus mengenakan seragam untuk saat-saat terakhir kita di lingkungan SMA ini..
          10 tahun bukanlah sebuah rentang waktu yang singkat. Ada banyak perubahan yang bisa saja terjadi dalam rentang waktu itu. Seperti yang terjadi pada SMA kita tercinta dulu. Tentulah akan berbeda dengan keadannya saat ini. Kita mungkin sudah tak akan mendapati suasana yang dulu kita lalui ketika menghabiskan masa belajar 3 tahun disekolah kita pada saat ini. Tapi pasti kenangan yang telah kita alami, tak akan pernah bisa hilang. Baik itu kenangan suka ataupun kenangan duka yang bisa saja berganti setiap waktu tanpa bisa kita atur atau kehendaki. 10 tahun tentulah cukup untuk sebuah perubahan besar. Dan kita harus sadar, saat ini tak bisa kita sama ratakan dengan 10 tahun yang lalu, di zaman kita masih mengenyam bangku sekolah disini. Gedung yang megah kini, tentu tak bisa dibandingkan dengan gedung sederhana yang kita gunakan dahulu. Namun sekali lagi, kenangan tentang sekolah ini tak akan pernah bisa hilang meski perubahan selalu menggerus segala objek yang menorehkan kenangan pada memori terdalam kita.
          Ada banyak hal yang membuat kita tak mungkin bisa lupa dengan SMAN 1 Pamotan 10 tahun yang lalu. Dan pastilah para siswa saat ini tak akan bisa menemui sebagian atau bahkan mungkin keseluruhan keseruan kita ketika menjadi siswa disana. Bukan bermaksud merendahkan atau apapun, tapi inilah beberapa hal yang tak bisa ditemukan siswa SMAN 1 Pamotan saat ini, dn hanya bisa kita temui di zaman kita dahulu. Sebenarnya ada banyak hal yang bisa mengingatkan kita pada SMAN 1 Pamotan. Tentunya yang kita bahas disini selain bapak dan ibu guru serta tenaga pengajar yang telah memberikan ilmunya pada kita.. karena jelas, merekalah unsur utama yang menarik kerinduan kita pada sekolah ini. Ah, membahasnya membuatku menjadi semakin rindu dengan masa-masa SMA dulu..
1.     Bangunan Yang Sederhana
Kita tak mungkin membandingkan Bangunan yang ada di SMA Pamotan saat ini dengan 10 tahun yang lalu. Tentu akan kita dapati perbedaan yang sangat jauh. 10 tahun yang lalu, nafas dari operasional sekolah masih bergantung pada iuran siswa. Berbeda dengan sekarang yang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hal ini tentu berimbas pada pembangunan di sekolah. 10 tahun lalu, Sekolah pasti akan berfikir berkali-kali jika akan melakukan pembangunan sarana penunjang pendidikan karena pasti akan memberati siswa. Sekarang? Tentu pembangunan bisa sesuai dengan perencanaan. Maka tak heran, pada 10 tahun yang lalu, pertama kali kita masuk ke SMA Pamotan, kita akan disambut dengan pintu gerbang yang sudah tua dan berkarat (mungkin setua Napoleon kali. hihihi). Selain itu, kita juga akan menemukan pula papan identitas sekolah yang seadanya, dan yang menjadi trade mark sekolah ini adalah pagarnya! Saat itu tentu kita masih ingat jika sekolah kita belum berpagar keliling. Tak cukup sampai disitu, jika kita melewati SMA Pamotan dari arah Lasem, maka kita akan melihat tulisan “Awas Bahaya Mau Roboh!!” yang menjadi trade mark sekolah kita. Coba bayangkan dengan keadaan sekarang. Pasti akan berbeda kan? Gedung dan bangunan megah mendominasi sekolah kita kini, dan tentunya trade mark sekolah kita tak dapat ditemui oleh siswa saat ini kan?
dulu... ini adalah ruang kelas penulis saat kelas 1..
2.    Hukuman Bagi Yang Terlambat mengikuti Upacara atau tidak lengkap.
Hukuman bagi yang terlambat upacara atau atribut tidak lengkap bermacam-macam. Tapi yang paling sering adalah, kita dibuatkan barisan pada sisi lapangan paling barat. Tidak sampai disitu, barisan sakit hati, eh, barisan telat upacara ini menghadap ke timur, langsung menghadap matahari. Kebayang kan gimana rasanya upacara dengan menghadap ke matahari? Penulis sih sering! huhuhuhuhuhu.
Siapa yang sering telat upacara? hayooo....
3.    Hukuman Bagi Yang Datang Terlambat.
Mungkin ini adalah salah satu hukuman yang paling unik yang pernah diterima anak-anak SMA Pamotan 10 tahun yang lalu. Apa itu? Bagi siswa yang telat, hukuman yang populer bukanlah hukuman fisik. Tapi satu diantara 2 hal ini. Yang pertama adalah membawa pupuk kompos (bahasa kasarnya adalah kotoran ternak) atau membuat bumbung (pagar kecil untuk melindungi tanaman). Maklum lah, saat itu SMA kita kan sedang gencar-gencarnya mengadakan penghijauan (patut dicontoh sekolah lain ini). Terkadang, bagi siswa yang merasa keberatan dengan membawa bumbung, mereka meminta Pak Kirno (penjaga sekolah) untuk membuatkannya. Tentu dengan kompensasi yang setara. Bagaimana dengan penulis? Tenang, sudah langganan! (langganan dapat hukuman ini. hakhakhak). Bagaimana dengan saat ini?
4.    Hukuman dari Bapak Ibu Guru.
Ini mungkin sudah sangat jarang kita temui saat ini. Karena alasan HAM atau apalah itu, yang semakin mempreteli kredibilitas pendidikan kita. 10 tahun lalu, hukuman fisik merupakan hal yang biasa bagi pelanggar peraturan sekolah. Bahkan sebuah hukuman dengan cara berjalan jongkok sambil memanggul kursi masing-masing merupakan suatu hal yang biasa bagi mereka yang lupa mengerjakan PR. Bagaimana jika diterapkan sekarang? Tentu pemberian hukuman pada siswa akan menjadi masalah yang berlarut-larut. Tapi dari sanalah kita bisa menjadi lebih disiplin dan patuh terhadap peraturan yang ditetapkan untuk kemudian berusaha menjadi lebih baik lagi. Bahkan ada kalanya hukuman-hukuman dari Bapak/Ibu Guru membuat kita menjadi rindu dengan saat-saat sekolah kita dulu. Tenang, penulis tidak pernah dapat hukuman kayak gini kok.. *bangga dikit.
5.    Tanda bel yang khas.
Dari dulu, dari jaman pertama bersekolah di SMAN 1 Pamotan, salah satu yang membuat kangen adalah bunyi bel sekolah yang antik dan khas. Ketika sekolah lain sudah berlomba untuk memodernisasi tanda bel mereka, SMA Pamotan Bergeming dengan bel besi yang dipukul oleh, ehem, seseorang yang khas pula. Pak Lan, begitu biasa kami memanggilnya. Sosok yang dengan setia memukul Bel besi ketika waktunya tiba. Sekarang? Semoga saja masih digunakan...
6.    Cara Guru Mengidentifikasi Siswa “penyelundup”.
Hal lain yang tidak bisa dilupakan oleh siswa SMAN 1 Pamotan 10 tahun yang lalu adalah cara guru engidentifikasi siswa penyelundup. Maksud penyelundup disini adalah siswa yang telat tapi bisa masuk ke kelasnya melalui jalan samping. Kan pada waktu itu belum ada pagar keliling. Jadi bisa saja kan para siswa yang terlambat lewat jalan samping sekolah untuk masuk ke kelasnya? Namun, tak kurang akal, guru SMAN 1 Pamotan pun bisa membedakan siswa yang telat dengan yang tepat waktu. Caranya? Mudah. Cukup dilihat sepatunya! Jika sepatunya kotor, atau terkena tanah basah, identifikasi awal bisa jadi dia telat! Karna, kiri kanan sekolah waktu itu masih berupa persawahan, sehingga tanahnya basah dan menempel di sepatu. Sebuah cara yang sederhana namun sangat efektif. Bagaimana dengan sekarang? Sepertinya.... ah...
Ini Bukan Penyelundup.. tapi ini wajah Siswa SMAPA 10 Tahun yang lalu... :D
7.    Pura-pura dari Kantin ketika Telat.
Alternatif lain bagi siswa yang terlambat untuk menghindari hukuman adalah dengan berpura-pura selesai sarapan dari kantin. Setidaknya hukuman mereka lebih ringan jika terdeteksi telat secara de facto. (halah!). bagaimana bisa? Iyalah bisa. Dari arah timur kan dulu ada jalan pintas (aslinya jalan persawahan). Karena sekolah belum memiliki pagar keliling, maka jalan itu bisa langsung mengarah ke kantin. Untuk menghindari kecurigaan guru, tasnya mereka titipkan dikantin dan diambil ketika istirahat tiba. Berhasilkah cara ini? Ketika musim kemarau tiba, kemungkinan berhasil lebih besar daripada musim penghujan. Karena tanah sawahnya kering... tapi, jangan ditiru! (maaf ya bapak ibu guru.. penulis ndak ikutan kok..). sekarang? Dengan pagar keliling yang rapat, tentunya hal ini akan sulit dilakukan oleh siswa sekarang dan hanya bisa dilakukan oleh siswa SMAN 1 Pamotan 10 tahun yang lalu...
8.    Tempat “Persembunyian” Alternatif.
Maksud tempat persembunyian disini adalah rerimbunan pohon bambu yang terletak dibelakang areal sekolah. Disini, beberapa siswa memanfaatkannya ketika membutuhkan ketenangan saat hendak ada ulangan. Bukan mencari wahyu, ilham, atau pangsit (halahhhh!! kalo pangsit mah di Bang Niam depan Masjid Pamotan ituuuhhh), tapi untuk belajar bersama dan mempersiapkan bahan ulangan.. sekarang? Sepertinya sudah ndak bisa lagi deh. Karena sudah tertutup pagar..
9.    “Hijrah” saat Berolahraga.
Berbeda dengan saat ini yang fasilitas olahraganya terbilang lengkap, 10 tahun yang lalu tidaklah sama. Ketika pelajaran olahraga dan kita hendak memainkan sepakbola, maka satu-satunya jalan adalah kita harus hijrah ke arah barat areal sekolah ke lapangan milik desa. Bukan hanya itu, meski sudah hijrah, dalam bermain sepakbola kita juga masih harus bersusah payah untuk bisa bermain maksimal. Lapangan desa yang kami pakai tidaklah rata. Bahkan kemiringannya sangat jelas terlihat. Jadi kita harus pandai-pandai mengolah bola plus menjaga keseimbangan saat berhijrah untuk bermain sepakbola disana.. sekarang? Bermain sepakbola cukup di areal sekolah. Karena sekolah telah menyediakan lapangan sepakbola yang lumayan bagus...
10. Class Meeting yang hampir selalu “Meminta Korban”
Korban disini berarti anak-anak atau siswa yang terluka atau cedera ketika mengikuti class meeting. Wajar saja, 10 tahun yang lalu, arena class meeting masih berupa hamparan tanah yang belum ada paving atau lapisan penghalus lainnya. Jadi ketika class meeting dilaksanakan, maka semangat juang yang membara akan diiringi dengan beberapa luka lecet bagi para siswa yang tanpa sengaja terjatuh karena saling beradu semangat. Iyap, luka kecil bukanlah sesuatu yang ditakutkan anak-anak SMA Pamotan 10 tahun yang lalu. Karena memang, ketika kita terjatuh, tanah berpasir dan bahkan berkerikil akan selalu setia menanti tubuh kita yang terhuyung ke tanah. Meski begitu, momen-momen seperti ini selalu dinantikan, dan.... 10 tahun kemudian entah mengapa membuat rasa rindu di bongkahan hati kecilku... (rindu? Memangnya penulis ikutan class meeting? Keren doonngg!!... sekedar bocoran ya, tiap kali class meeting dilaksanakan, penulis selalu setia mengikutinya. Semua kegiatan penulis ikuti. Terutama olahraga. Beeuuuhhh.... sudah langganan kalo penulis dulu menjadi pemain cadangannya cadangan.. )
11.  Janjian Dengan Surat Atau Perantara.
Ehem, ehem.... siapa ini yang dulu melakukan hal ini? Yang pernah melakukan hal ini pasti senyum-senyum sendiri. Coba kita kilas balik lagi. 10 tahun yang lalu, HP belumlah sepopuler sekarang. Jadi untuk membuat janji dengan seseorang yang berbeda kelas, bisa dengan mengirimkan surat melalui teman yang lain. Uhhh, ribet ya? Memang ribet untuk ukuran sekarang. Tapi, 10 tahun yang lalu, hal seperti itu sih biasa. Ini berlaku juga untuk siswa yang ingin nembak target operasinya tapi tidak punya nyali untuk bertemu secara langsung. Lalu dimana gregetnya? Ada kok.. gregetnya adalah, masa-masa ketika menunggu balasan surat “Tembakan” yang kita kirim. Tentu akan sangat bahagia jika dibalas sesuai dengan yang diinginkan dan akan sedih jika dibalas dengan penolakan. Namun yang lebih tragis lagi adalah.... ketika sudah mengirim surat “tembakan”.... dan target operasinya tidak memberikan jawaban sama sekali. Tidak mengatakan “tidak”, dan tidak pula mengatakan “iya”. Bagaikan menanti sesuatu yang belum jelas kehadirannya... *penulis pernah punya pengalaman tentang hal ini. Membuat surat tembakan dua kali, tapi semuanya bukan untuk penulis sendiri. Satu untuk teman sekelas berinisial “L” (sumpah ini bukan L yang menjadi bintang utama The Death Note), dan yang kedua untuk teman dengan inisial “A” (aslinya sih bernama Agus). Hasilnya? Alhamdulillah, dua-duanya ditolak! Bahkan sang pujaan hati si “L” malah pindah sekolah beberapa waktu setelah mendapatkan surat tembakan itu.. jangan-jangan....
12. Penjelajahan Pramuka yang Selalu Dirindukan.
Ini nih yang menjadi salah satu poin penting mengapa sekolah di SMAN 1 Pamotan pada 10 tahun yang lalu sangat dirindukan. Dulu, kegiatan pramuka yang dilaksanakan di sekolah selalu diselingi dengan penjelajahan alam diluar kompleks sekolah. Tak tanggung-tanggung, jarak yang ditempuh bisa mencapai puluhan kilometer dan semuanya dilangsungkan diluar sekolah. Bahkan Kadang area penjelajahan berjarak beberapa kilometer dari sekolah. Meskipun capek, suasana perkemahan saat itu memang benar-benar mendidik siswa untuk lebih dekat dengan alam. Bukan hanya slogan, tapi kami benar-benar diperlihatkan alam yang nyata, didekatkan dengan alam, dan yang terpenting diajari untuk menghargai alam. Mungkin yang terjauh yang pernah penulis tempuh adalah ketika harus melakukan penjelajah di Gunung Mbugel dengan rute ke puncak. Sampai daerah ceriwik, dan memutar menuruni gunung lewat timur SMPN 1 Pancur untuk kemudian kembali ke areal perkemahan di SMAN 1 Pamotan. Semuanya dengan berjalan kaki lho... hemm... jadi ingin menjelajah gunung lagi.. lalu bagaimana dengan sekarang? Yaahhh... penulis gakk tau... yang pasti pengalaman menjelajah alam itu semakin membuat rindu pada SMAN 1 Pamotan 10 Tahun yang lalu..
Ini Bukan Pramuka, ini sekedar iklan...
13. Kakak Pembina Pramuka yang “Mengartiskan Diri”
Sudah tak bisa dipungkiri jika masa SMA adalah masa pencarian jatidiri yang sebenarnya tak pernah hilang sama sekali (lalu kenapa dicariiiiiiiii????). maksud dari mengartiskan diri disini tak lepas dari salah satu kegiatan perkemahan yang mengharuskan adik-adik pembina mengirim surat kepada kakak pembina yang dikaguminya. Surat itu bisa surat kekaguman biasa atau bahkan malah surat cinta yang menyatakan perasaan... tentu saja perasaan cintanya. Dan kesempatan untuk kakak pembina menjadi artis dadakan sangat terbuka lebar. Karena mau tak mau (malah bahkan cenderung memaksa kalau tak mau dikatakan mengancam. Xixixixi) adik tingkat harus mengirimkan surat kepada kakak pembina pramuka. Bisa dibayangkan kan bagaimana malunya si adik tingkat ketika karus menulis surat kepada kakak pembinanya.. tapi disanalah letak keseruannya. Kita dituntut untuk menjadi seseorang yang berani menyatakan apa yang ingin dinyatakan, mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan. Mungkin cara ini bisa dipakai oleh para Jones (Jomblo Ngenes) yang sudah abadi dengan kejombloannya.. xixixixi... *gara-gara acara beginian, penulis malah mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan.. saking ngartisnya, sampai ada adik tingkat yang ngirim surat yang ternyata dia...... cowok!
14. Berebut bus angkutan ketika pulang sekolah
10 tahun yang lalu, mayoritas siswa di SMAN 1 Pamotan masih menggunakan bus sebagai sarana untuk berangkat dan pulang sekolah. Tak seperti saat ini yang kebanyakan menggunakan motor sebagai kendaraan untuk ke sekolah, dulu menggunakan bus merupakan hal yang paling banyak dilakukan oleh siswa baik itu yang jauh ataupun dekat jarak rumahnya. Nah, hal yang membuat rindu adalah, dimana saat bel pulang sekolah berdentang. Ketika semua siswa berhamburan keluar kelas dan menunggu kedatangan bus di pinggir jalan secara bersama-sama, dan berharap bus yang datang nantinya masih kosong. (kadang para penunggu bus kecewa juga. Karena ternyata bus yang datang sudah penuh dengan siswa dari sekolah lain). Ketika melihat ada bus datang, maka siswa-siswi tersebut langsung berhamburan menyambut dan berdesakan untuk bisa naik agar dapat pulang sekolah dengan segera. Bahkan demi bisa mendapatkan tempat duduk atau mendapatkan bus lebih awal dari para “penunggu bus” yang lain, tak jarang para siswa nekad untuk mencegat bus di barat sekolah, dengan berjalan jauuuuhhh ke barat. *contohnya penulis, demi mendapatkan bus dengan segera, tak jarang penulis dan kawan-kawan rela berjalan jauh ke barat. Dan... yang paling sering dilakukan penulis beserta kawan-kawan adalah... mencegat bus di pos ronda di pertigaan desa Gayam.. entah berapa jauhnya itu... hihihi
Wajah-wajah 10 Tahun yang lalu...
15. Menunggu bus dibawah pohon asam di pinggir jalan.
Satu hal yang membuat kangen dengan keadaan SMA Pamotan 10 Tahun yang lalu adalah suasana bubaran sekolah. Ketika pulang sekolah, akan terlihat siswa-siswi SMAPA berjajar di pinggir jalan dan bergerombol dibawah pohon asam yang tumbuh subur di sepanjang jalan raya depan sekolah. Saat ini mungkin masih terlihat sama. Tapi jika kita bandingkan dengan 10 tahun lalu, ketika halte bus belum ada dan kebanyakan siswa masih menggunakan bus (bukan motor seperti saat ini) pastilah akan ada semacam rasa yang hilang dan membuat rindu. entah rasa apa itu yang jelas, bagi sebagian siswa, menikmati saat-saat menunggu bus dibawah pohon asam depan sekolah memberikan kesan tersendiri yang mungkin akan membuat sebuah perasaan ingin mengulang lagi masa-masa itu.
16. Petugas Perpustakaan Yang Pendiam dan ditakuti.
Bagi sebagian siswa yang doyan pergi ke perpustakaan sekolah, tentu tak asing lagi dengan sang penjaga perpustakaan yang bernama mbak Atif. Bagi yang terbiasa ke perpustakaan juga, pasti akan tahu jika sebenarnya mbak Atif ini adalah seorang yang enak untuk diajak ngobrol, sharing, bertanya atau bahkan curhat. Namun, sayangnya karena budaya anak-anak SMAPA 10 tahun lalu tidak familiar dengan yang namanya baca membaca atau perpustakaan, maka sosok mbak Atif lebih sering terdefinisikan sebagai sosok yang pendiam, galak, suka marah, dan... misterius!. Sebenarnya, jika kalian tahu ya vroohh, jika kalian sering berkunjung ke perpustakaan dan berinteraksi dengan beliau, kesan negatif yang menempel pada mbak Atif akan hilang dan berganti dengan sosok yang ramah, charming, suka becanda dan tentunya.. suka nunjukin buku yang kalian inginkan! Tapi apapun itu, mungkin salah satu yang membuat SMAPA 10 tahun yang lalu tercetak kuat di ingatan adalah sosok yang menjaga perpustakaan itu.
17. Menghitung Gerimis dibawah Pohon Asam Depan Sekolah.
Kalo ini sih bukan pendapat umum. Ini sih pendapat penulis sendiri suka main gerimis-gerimisan dan menikmati gerimis dibawah pohon asam depan SMAPA. Yah, dasarnya memang suka dengan gerimis dari kecil. Jadi terbawa sampai besar, sampai SMA juga. Sangat tidak penting kan untuk ditulis? Ya iyalahhh... tapi beneran, coba deh, sekali waktu nikmati gerimis yang merinai dengan penuh penghayatan. Perasaan pembaca akan menjadi lebih tenang dan akan lebih terimajinasi dengan sesuatu yang mungkin tak pernaah pembaca bayangkan.. lalu kenapa dikasih judul menghitung gerimis dibawah pohon asam depan sekolah? Biar agak keren aja vroohh... tavvuran nyookkkk! Daripada banyak tanya! Aaahh, penulisnya ajah yang gak jelas! *komentar para pembaca.
Nah, mungkin itulah hal-hal yang membuat kita kangen dengan masa-masa sekolah kita dulu di SMAN 1 Pamotan.. mungkin ada yang sama, mungkin juga tidak. Lalu, apa yang membuatmu kangen dengan masa sekolah di SMAPA?

Tuesday, 26 May 2015

Menginput Peserta Didik di PIP

Selamat pagi, siang, sore dan malam teman-teman. Masih bingung dengan aplikasi PIP Kemdikbud ya?? Hahay, sama kalo gitu. Aku juga masih bingung. Nah, untuk kali ini, kita akan membahas sedikit tentang PIP.
Apa sih PIP kemdikbud itu? PIP Kemdikbud adalah aplikasi dari kementerian pendidikan dan kebudayaan nasional yang mempunyai fungsi untuk mendata anak-anak usia sekolah di indonesia, untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah. PIP (Kependekan dari Program Indonesia Pintar), diluncurkan oleh pemerintah untuk membantu biaya pendidikan bagi peserta didik yang masuk dalam kategori sebagai peserta didik miskin. Karena baru diluncurkan, aplikasi ini masih sering mengalami maintenance dan belum stabil. Jadi untuk sementara, kita seperti kucing-kucingan dengan server. Karena kadang ketika ingin menginput data, ternyata PIP nya sedang offline (Beban Kerja Operator semakin meningkat kalo gini niiihh...)
Nah, kemarin nih beberapa waktu yang lalu, servernya bisa dibuka, dan berikut bantuannya.
1.     Buka situsnya disini
2.    Kemudian loginlah dengan username dan password dapodik temen-temen.
3.    Setelah masuk, pilihlah kategori input data KPS.
4.    Pilih kategori Jenjang Pendidikan, Tahun, Semester, Propinsi, Kabupaten/Kota, Sekolah.
5.    Maka akan nampak halaman seperti berikut ini:

6.    Teliti satu persatu nama siswa yang mendapatkan bantuan KPS (Dasar dari pemberian PIP adalah KPS, dan pastikan tercentang “ya” pada bagian diusulkan)
7.    Jika ada peserta didik yang berhak menerima PIP tapi belum dicentang, maka usulkan. Caranya mudah, isikan semua yang diperlukan (tahap, jenis – pada pengusulan baru, bagi peserta didik yang mempunyai KPS tapi belum terjaring dalam pendataan, maka pengajuannya dengan cara memasukkan nomor KPS yang bersangkutan, bukan “k” seperti yang sudah tercatat asli, ataupun "FUS" dan yang penting di tag diusulkan, beri tanda “ya”. pengusulan dengan "FUS" adalah untuk siswa yang miskin, rentan putus sekolah, membutuhkan bantuan dari pemerintah, dst) Setelah itu, tinggal di klik tombol “simpan” dan pastikan sampai muncul notifikasi sebagai berikut:

Pilih Bagian "Ya"
Notifikasi Data Tersimpan

8.    Cek, dan pastikan peserta didik tersebut telah tercatat seperti ini:
Peserta Didik Sudah Tersimpan

9.    Selesai.

Untuk sementara, aplikasi PIP memang belum bisa bekerja dengan maksimal karena keterbatasan akses kesana dan masih seringnya mengalami masalah, namun tak ada salahnya jika kita men-cicil yang bisa kita lakukan untuk saat ini. Sembari menunggu proses penyempurnaan dari pihak penyedia jasa layanan... salam operator!
Terima Kasih untuk masukan dari mas Beroh Anam, Mas Dadik Pak Wahyu, Mas Mbarik, Yoga mencari Jati Diri, Mbak Wulan Bunder, Paman Ukis.

Saturday, 22 November 2014

Hasil Indonesia vs Vietnam : 2-2.

Indonesia dan Vietnam Berakhir Imbang 2-2.,..
hehehehe

Sunday, 22 June 2014

Review Film "Radio Galau"



Perkenalkan, Aku Bara, Bara Mahesa lengkapnya. aku adalah cowok yang sudah menjomblo selama 3 tahun ini dan hanya menghabiskan waktu dengan menulis blog dan fokus menyelesaikan buku yang selama ini menjadi impianku. Memang sih, karena jomblo yang sudah 3 tahun, banyak yang mengatakan kalau akugak laku. Tapi semua itu salah. Aku seperti itu karena mempunyai alasan tersendiri. Aku yakin, jodoh pasti suatu saat nanti akan datang dengan sendirinya, meskipun untuk saat ini aku gak begitu mengurusi apa yang dikatakan orang sebagai “Pacaran”. Oh iya, aku juga mempunyai hobi menulis untuk mengisi mading sekolahku, di SMA Jaya Giri.
Dibalik Pria Sukses, Pasti selalu ada MANTAN yang menyesal....

Bang Ipul Cepet Pulang Dooonngg...

Bara...

          Karena kebiasaanku menulis inilah, suatu hari, ada adik kelas yang ingin berkenalan denganku. Velin.. iya, velin Namanya. Dia adik kelasku, dan menyukai tulisan-tulisan yang aku publikasikan lewat mading sekolah. Lewat temannya, Tata, velin yang malu ketika ingin berkenalan denganku secara langsung, akhirnya tersampaikan juga niatnya untuk mendekatiku. Dan begitulah, semenjak perkenalan itu, aku dan Velin sering melakukan aktifitas bersama-sama. Dan, perasaan suka pun timbul. Singkat cerita, akhirnya aku beranikan diri untuk menembaknya, dan secara resmi kami pun jadian. Tepat didepan papan nama sekolah kami, aku mengungkapkan perasaanku padanya. Dan dia pun menerimaku dengan penuh kegembiraan.





          Waktu berjalan, dan ketika berpacaran dengan Velin, aku merasakan bahwa Velin egois, tidak mau ngertiin aku, dan hanya aku yang coba untuk ngertiin dia. Aku gak tahu, kenapa dia seperti itu. tapi karena gak tahan dengan sikapnya, aku pun mulai lari, menjauh darinya, dan aku mendekati Diandra, kakak kelas yang perfect.
          Ditengah perjalanan kisahku dengan Diandra, aku secara nyata menggantungkan Velin. Meski dia berubah untuk menjadi lebih baik, namun niatku sudah bulat untuk berpisah. Aku mengatakan padanya bahwa kita hanya break. Namun, ketika break itu, aku menduakannya. Dan mungkin karena Velin tak tahan dengan sikapku, akhirnya, siang itu, sepulang sekolah, dia menghampiriku. Didepan sekolah, depan papan nama sekolah kami. Ya, hari itu dia mengatakan putus denganku. Papan nama yang dulu merupakan saksi dari kami jadian, sekarang pun harus menjadi saksi berpisahnya kami.




          Setelah resmi berpisah dengan Velin, ternyata Diandra yang lebih cantik daripada velin membuatku lebih menderita. Dia sangat tidak peduli dengan keadaanku. Dia hanya ingin semua keinginannya terpenuhi, tanpa tahu dan tanpa pernah ingin tahu bagaimana aku. Aku menderita. Hingga akhirnya, aku menginginkan untuk berpisah dengannya.
          Hari itu, aku melihat Velin tengah berdiri didepan mading sekolah. Tampaknya dia mencari tulisanku yang biasanya mengisi salah satu bagian disana. Aku sapa dia, dan setelah berbasa-basi sebentar, aku mengajaknya untuk makan malam di salah satu langganan kami ketika masih berpacaran dulu. Dia pun menyetujuinya. Secercah harapan bagiku timbul dengan di iyakannya ajakanku.
          Malam itu, dipinggir jalan tempat kami dulu biasa makan, kami duduk berdampingan. Aku pandangi Velin, dan bergumam dalam hati.. “Kenapa ya, cewek itu keliatan lebih cantik kalau dia sudah bukan milik kita lagi??”

Malam itu pun aku menyatakan niatku untuk balikan lagi dengannya. Namun sayang, Velin tak bisa memenuhi harapanku.. “aku Sudah dengan yang lain Bar..” itulah jawaban yang aku terima. Kemudian dia menambahkan “bar, Cewek sempurna itu Cuma ada di novel-novel teenlit yang pernah aku baca... di dunia nyata, gak akan pernah ada cewek sesempurna itu bar.. gak akan pernah ada..”. aku pun pulang dengan gontai..
          Nah, dari review film Radio Galau diatas, ada satu hal menarik nih yang pengen aku tegaskan. Disana bara mengatakan bahwa cewek keliatan lebih cantik kalau dia sudah bukan lagi menjadi milik kita. Namun, sebagai penulis yang belum terakreditasi, aku pun juga punya versi sendiri tentang cewek cantik.. bagiku “cewek itu keliatan lebih cantik kalau dia itu mau menerima kita apa adanya. Cewek cantik itu adalah cewek yang mau sama kita. Apa gunanya cewek cakep kalo dia itu bukun kita sakit ati?? Apa gunanya cewek cantik kalau dia gak menghargai kita?? Apa gunanya cewek cantik kalau dia mengecewakan kita??? dan juga, cewek yang luarnya cantik, bisa jadi dalamnya itu menyeramkaaaannnn!!! Iya kaaaaannnn????”

          Kemudian pelajaran lain yang bisa kita ambil adalah, kita akan mengetahui betapa pentingnya seseorang ketika kita sudah tidak lagi bersamanya. Ketika kita mempunyai pasangan, seringkali kita tidak menganggapnya penting, dan yang lain belum tentu akan sebaik dia yang dulu pernah bersama kita, bahkan yang baru bisa jadi tidak lebih baik daripada dia yang dulu pernah kita sia-siakan. Sekarang, fikirkanlah, semua pengorbanan yang telah dilakukan oleh pasangan untuk kita.. jangan pernah menyia-nyiakan dia yang sudah begitu baik, dan rela menghabiskan waktunya untuk bersanding dengan kita..
          Nah, untuk lebih jelasnya, silahkan deh tonton sendiri radio galau. Pemainnya juga keren kok. Dimas Anggara sebagai Bara dan Natasha Rizki sebagai Velin... hemmm.. selamat menonton...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...